Selasa, 01 Mei 2012

PANTING :Alat musiknya orang Banjar


Alat musik panting adalah alat musik asli banjar,Kalimantan Selatan. namun sekarang ini banyak generasi muda banjar yang hanya pernah mendengar namanya namun belum pernah melihat dan bahkan sampai memegangnya, sedang untuk memainkannya…..apalagi. namun aku sendiri sebagai putra banjar pun kuakui, sebenarnya setali tiga uang dengan pernyataan tersebut diatas. Sebagai alat musik tradisional maka panting bagi generasi muda sebagaian akan dianggap sebagai alat music yang kono, kemudian dari segi karakter suara kadang panting dianggap hanya pantas untuk mengiringi lagu melayu dan lagu banjar sehingga lebih menarik gitar yang bisa memainkan semua jenis music, kemudian lagi dari segi harga, gitar harganya lebih murah dari pada panting dan lebih mudah mendapatkan gitar di Toko alat music.
Saat browsing youtube secara tak sengaja aku menyaksikan alat music tradisional dayak, sampek, dimainkan dengan format band  dan kedengaran tak jadi masalah dimainkankan dikolaborasikan dengan alat music modern, malah sampek menjadi sangat dominan di bandingkan dengan alat music lainnya, karena memang sampek yang dimainkan ini menjadi lead music, utuk dapat melihat sampek yang ku masksudkan ini masukkan saja dalam format pencarian youtube “jerry kamit’. dengan berlatar belakang ini semua timbullah hasratku untuk mengetahui secara lebih dan bahkan hasrat untuk mempelajarinya, namun pada saat kutanyakan tentang harga sebuah panting dengan cara memesannya ternyata harganya lumayan mahal, sekarang ini aku hanya mampu bermimpi bahwa suatu saat aku akan mempunyai alat music ini.
Sebelum aku mempunyai panting ini, aku dapat sedikit gambaran tentang alat music ini dari bapak Ahmad Fauzi atau di kabupaten Balangan di desa sungsum kecamatan Tebing Tinggi kabupaten balangan yang merupakan salah satu seniman banjar di Kabupaten Balangan . menurut beliau alat Musik ini dinamakan Panting karena untuk membunyikannya dengan cara disentil senarnyanya agar bunyinya melenting atau panting dalam bahasa banjar, alat music ini digunakan untuk mengiringi nyanyian atau tarian yang bersipat hiburan dalam kebudayaan banjar. Orang yang memainkan panting di namakan pamantingan.
Beliau juga bercerita bahwa sejarahnya tidak diketahui kapan panting ini mulai di mainkan atau pun di buat oleh siapa, namun alat music ini pada awalnya berasal dari daerah tapin dan kemudian menyebar keseluruh wilayah propinsi Kalimantan selatan dan secara langsung ataupun tidak langsung menjadi alat music khas banjar, beliau juga bercerita music panting sudah dikenal dikenal di Kalimantan selatan sebelum jaman penjajahan Belanda, diperkirakan pula mulai berkembang sekitar tahun 1802 bersamaan dengan berkembangnya sendra tari Japin.
Panting Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil, terbuat dari kayu bulat dan bagian depannya atau badan ditutup dengan kulit hewan seperti kulit kijang, rusa, kambing, biawak, puraca (Ular sawah) dan kulit binatang malata lainnya.
Bahan  baku untuk membuat panting diantaranya adalah :
1.    Kayu, yaitu kayu bulat atau gelondongan, kayu yang paling baik menurut urutannya adalah kayu rawali, kayu sapat, pulantan, jingah, halaban, nangka, kemuning, kenanga dan kalangkala. Kayu kalangkala jarang atau bahkan tidak boleh di gunakan karena dapat menjadikan orang yang memainkannya pamabukan, maksudnya ingin memainkan panting kada bamamandakan (memainkan tidak henti-hentinya)
2.    Kulit, kulit digunakan untuk menutupi badan panting bagian depan, kulit yang baik akan mempengaruhi juga terhadap bunyi yang dihasilkan oleh panting, kulit yang baik urutannya adalah kulit Puraca/ular sawah karena kulitnya tipis tetapi kuat, selanjutnya kulit biawak dan kambing, sedang kulit sapi atau kulit kerbau tidak digunakan karena terlalu tebal, sekarang ini terkadang panting tidak ditutupi dengan kulit lagi tapi dengan kayu triplek, sedang untuk meningkatkan suaranya dengan bantuan perangkat elektronik seperti Pick Up yang biasanya di pasang pada elekrik gitar.
3.    Senar, atau tali panting dalam perkembangan music panting senar yang digunakan dimulai dengan tali haduk (unus enau), Sutera Kanas yaitu dari daun nenas yang di gerus kemudian diambil seratnya kemudian dipintal menjadi benang, Bikat ( sejenis serat dari kulit kayu), banang masin ( benang jahit yang kuat, sejenis tali belati tapi ukurannya lebih kecil), Benang Sinali (benang berwarna merah karena dicelup getah kayu yang berwarna merah), dan yang terakhir dan digunakan terus sampai sekarang ini adalah tali nilon, menurut bapak amat lagi nilon merupakan bahan terbaik sedangkan kawat tidak digunakan karena bunyi yang dihasilkannya tidak cocok untuk panting karena bunyinya menjadi lebih melenting dan bunyinya tidak panting lagi namanya. Kemudian jumlah senar panting pada awalnya hanya tiga yaitu tali I disebut pangalik fungsinya adalah penyisip nyanyi atau melodi, tali II di sebut panggundah/ Pangguda berfungsi sebagai penyusun nyanyi/paningkah dan terakhir Tali III disebut agur berfungsi sebagai bass atau dalam istilah banjarnya agung atau gong. Sekarang ini panting kadang tidak dengan 3 senar lagi bahkan ada yang sampai dengan 8 senar yang tujuannya agar panting lebih dapat mengeksplorasi nada lebih jauh lagi.

Kemudian diakhir pembicaraan bapak Amat yang mengaku hanya mampu memainkan panting namun tidak mempunyai kemampuan membuatnya, menjelaskan bahwa dalam pembuatan panting itu tidak ada ritual khususnya hanya biasanya dalam perut panting tersebut biasanya di masukkan benda-benda atau azimat yang mempunyai kekuatan magis menurut kepercayaan si pembuatnya yang bertujuan agar music panting disenangi penonton yang mendengar ataupun melihat, diantaranya adalah tambang liring (azimat pekasih untuk menaik orang yang mendengar atau melihat), Bunga Kenanga dan tulisan rajah.

Dalam memainkan music panting dalam pagelaran biasanya dahulu menurut bapak Amat, panting akan di rabun kamanyan ( diasapi kemenyan ) agar supaya datu-datu para penjaga panting datang, datu penjaga panting tersebut adalah Datu Lampai, Datu Bangkala, Datu Kalambahai, Datu Kundarai, Datu Ujung dan Datu Lampai Sari....pada akhirnya ritual merabun panting dengan kemenyan ini bukanlah dengan maksud untuk menduakan sang maha pencipta, namun ini hanyalah sebuah bentuk permohonan izin kepada mereka yang dianggap sebagai si empunya panting, mungkin dalam istilah saat ini adalah sebuah bentuk pembayaran royalti terhadap sebuah produk yang telah terpatenkan.