Selasa, 23 April 2013

Mesjid Al A’la Desa Jatuh



Mesjid Al A'la
Mesjid Al A’la adalah sebuah Mesjid tua dan dikeramatkan, mesjid ini secara Historis memang selalu dihubungkan dengan panji-panji dan Al Qur’an yang sekarang ini di pelihara dan dirawat oleh salah satu Ulama MudaJakfar Sadiq di desa Jatuh.
Mesjid ini sering dikunjungi oleh kelompok-kelompok masyarakat,selain untuk melihat lihat mesjid Al A’la tetapi juga untuk memenuhi Hajat,biasanya mereka mengadakan selamatan yang di pimpin oleh Kaum mesjid (Penjaga Mesjid) Al A’la Desa Jatuh, dengan membawa sejumlah Kue Khas Banjar seperti Apam putih, Apam Habang, Cucur Putih, Cucur habang atau ketupat.
Dalam selamatan ini,biasanyadisetai jugadengan Batumbang yaitu dengan melemparkan Koin uang yang dibacakan Shalawatan dan koin shalawatan iniakan diperebutkan oleh para anak-anak didesa jatuh, menurut Busu Ugun ( Paman Ugun atau Paman Mugeni) kaum Mesjid Al A’la sekarang ini menjelaskan ‘kalau  mereka membawa bayi atau anak-anak biasanya akan di tampungasi (dibasuh mukanya) dengan Air yang ada di Kolam mesjid atau kran Wudhu Mesjid, dan kemudian bagi Bayi dan Anak lelaki akan di jajakan batisnya (dijejakkan kakinya)ke anak-anak tangga mimbar yang berada pada bagian mihrab. Ritual ini juga menjadi sebuah kewajiban dilaksanakan oleh para juriat desa Jatuh perantauan disaat pulang kampong denganharapan kelak menjadi seorang anak yang tidak jauh sikap dan kepribadiannya dari tata kehidupan dalam lingkungan mesjid.
Mihrab Mesjid
Mesjid Al A’la desa jatuh memang tidak bisa dipisahkan dengan panji-panji dan Al Qur’an tua yang sudah ada diceritakan dalam tulisan sebelumnya.
Dari buku berjudul Panji-Panji Da’wah Islamiyah Karangan Drs. Syamsiar Seman Terbitan Pengurus Mesjid Al A’la Jatuh Barabai yang diterbitkan tahun 1979 diceritakan bahwa selain sebagai tempat melaksanakan Ibadah, Mesjid ini dahulunya juga di gunakan sebagai markas pasukan baratib guna mengatur siasat pertempuran, pemimpin pasukan baratib adalah Penghulu Muda Yuda Lalana, pasukan baratib adalah pasukan rakyatyang  dalam setiap Pertempuran  senantiasa berzikir menyebut nama Allah SWT.
Panji-panji peninggalan Kuno yang bertuliskan zikir tersebut turut member semangat perlawanan rakyat terhadap colonial Belanda, karena panji-panji inilah yang di pakai sebagai bendera pasukan baratib.
Menurut Hj. Habibah  seorang pensiunan Kepala sekolah kelahiran Jatuh 69 tahun yang lalu, tanah tempat berdirinya mesjid Al A’la adalah tanah wakaf dari datu-datu dari Penghulu Muda YudaLalana, setelah beliau wafat pembinaan Mesjid dilanjutkan oleh putra-putra beliau yaitu Haji Abdurrahman dan Abu Hamid.
Kemudian sekitar abad ke 18 mesjid ini mendapat perluasan dengan ukuran 13x13 m yang di pimpin oleh Haji Muhammad Yusuf bin Haji Abdurrahman.
Selanjutnya pembianaan ini dilanjutkan lagi baik dari ukuran dan juga konstruksinya oleh prakarasa putra-putra Haji Muhammad Yusuf yaitu Haji Dahlan, Haji Hasan, Haji Sibeli, Haji Muhammad Arsyad, Haji Muhammad As’ad dan Haji Muhammad Rafie.
Sekarang ini Mesjid Al A’la yang berasal dari bagasa Arab yang berarti ‘Tinggi’ memang tidak hanya terlihat lebih tinggi, namun secara kenyataan memang lebih tinggi permukaannya di bandingkan denagan rumah-rumah  penduduk disekitarnya, sehingga untuk mencapai pelataran Mesjid haruslah melewati tangga berundak lima. berada persis di didepannya adalah jembatan yang membelag Aliran sungai Batang Banyu Jatuh menuju ke sungai Kambat,sedangkan aliran sungai yang dalam cerita terdagulu ada percabangannya ke sungai ringsang pematang sudag tidak ada lagi, seingatku pada waktu kecilku dagulu sungai ringsang ini dipenugi dengan pogon rumbia segingga karena ini lag mungkin salag satu sebab sungai ini sudag tidak ada lagi, dan disamping kiri jembatan yang dagulu menjadi kediaman sebagian Keturunan dari Penggulu Muda Yuda Lalana, bangunan Perpustakaan dan kediaman Kaum Mesjid sudag diratakan dengan tanag dan di jadikan areal parker bagi para jemaag yang ingin melaksanakan ibadag dan juga parkiran para penjiarag ke Mesjid ini.     
tangga menuju langit-langit mesjid
Meskipun telah mengalami renovasi beberapa kali namun pada beberapabagian masih tetap dipertahankan sehingga nuansa mesjid sebagai mesjid kuno masih kental terasa. hal ini Nampak terlihat pada konstruksi atap berbentuk tumpang yang mengecil keatas dan pada puncaknya terdapat semacam Mustika ,dan pada bagian dalambangunan masih terdapat tangga tinggi menuju kelangit-langit bangunan yang pada dahulu sebelum dikenal pengeras suara merupakan tempat Muadzin menyampaikan azan sebagai pertanda akan dimulainya ibadah Shalat .

Selasa, 26 Maret 2013

Panji-Panji dan Kitab Al Qur’an Kampung Jatuh



Cerita pengantar tidur Mama tentang Panji-panji dan Al Qur’an di Kampung atau Desa Jatuh masa kecil dahulu selalu menjadi pengantar lelap malamku,kadang kecupan hangat mama dikening akan membangunkanku dan sekejap pula mama melanjutkan ceritanya, dan Abah akan membetulkan selimutku, atau abah kadangkala dengan sengaja membangunkanku, maka cerita-cerita mama pun akan semakin panjang lagi, sekarang cerita pengantar tidur itu begitu membekas dalam memoriku.
Cerita yang terasa sangat membekas dalam memoriku, karena di setiap akhir cerita ini, mama akan selalu berpesan kepadaku, ‘kau anakku, adalah orang jatuh….semua orang jatuh itu adalah saudara mu, maka apabila kelak kau menjadi dewasa dan entah dimana kau akan bertemu dengan orang yang menyatakan bahwa ia adalah juriat jatuh,maka mereka adalah saudaramu,mereka adalah keluargamu’
Cerita tentang jatuh itu adalah cerita tentang sejarah desa jatuh yang sekarang ini berada ± 6 KM dari pusat kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, di Kecamatan Pandawan, Kalimantan Selatan. Cerita ini telah lama beredar di masyarakat, namun seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang yang mulai melupakannya, dan bahkan mungkin masyarakat yang tinggal di Desa jatuh sendiri ada yang tidak mengetahuinya,mereka hanya mengetahui jatuh dengan Mesjid Al A’la, panji-panji dan Kitab Suci Al Qur’an yang telah berumur ratusan tahun itu.
Cerita ini aku persembahkan untuk Mama yang tanpa lelah bercerita dan menjadikan aku bagian dari cerita kehidupan di dunia ini,untuk semua warga Desa jatuh dan juriat Desa jatuh karena cerita ini adalah cerita tentang kita sehingga selayaknyalah kita mengetahuinya, bagi pembaca disinilah tempatnya kita berbagi dan terakhir untuk anakku, Ahmad Ikhwan Aufa, di darah mu mengalir juriat orang jatuh, menjadilah engkau seperti apa yang seharusnya.
Asal Usul nama Desa Jatuh
Nama desa Jatuh berasal dari kejadian Kejatuhan, dimana diceritakan bahwa ditempat ini lah dahulu panji-panji yang dikeramatkan itu dijatuhkan. Panji-panji tersebut adalah bendera berbentuk segitiga yang lancip dan runcing ke ujung berukuran panjang 175 cm, tinggi 90 cm, membentuk sudut 90° dan ukuran sisi miring 195 cm, panji tersebut ada 2 lembar,diperkirakan kain dasarnya berwarna kuning dengan tulisan kaligrafi hitam, keutuhan kain tersebut sudah mulai lapuk karena diperkirakan usianya sudah mencapai 350 tahun. dari kejatuhan yang dari kata dasar Jatuh ini kemudian menjadikan desa yang dahulunya bernama Banua Budi kemudian berubah nama menjadi Desa Jatuh sampai dengan sekarang ini, sedang nama Banua Budi sekarang ini digunakan untuk nama desa pecahan dari Desa Banua Binjai kecamatan Barabai. panji-panji tersebut sekarang ini di jaga pemeliharaannya oleh seorang ulama muda yaitu Jakfar Sadiq di Desa jatuh yang merupakan turunan dari Pembina utama mesjid Al A’la Desa jatuh, seorang Ulama dan juga pemimpin pasukan Baratib dalam masa perjuangan fisik kemerdekaan masa Kolonial Belanda, Penghulu Muda Lalana yang akan diceritakan lebih lanjut dalam tulisan lainnya

Cerita-cerita tentang datangnya panji-Panji di Desa Jatuh
Ada 3 cerita yang diyakini sebagai asal muasal panji tersebut ada didesa jatuh yaitu:
1.                  Cerita I :   
Diceritakan bahwa 2 lembar panji itu dibawa oleh seorang Haji bernama Haji Said yang pada saat menunaikan ibadah Haji di tanah suci Mekah diamanatkan untuk menyampaikan Panji dan kitab suci Al Qur’an sebagai hadiah dari warga raja Arab Saudi dalam rangka menyebar luaskan Da’wah Islamiyah.
Diamanatkan pula kepada Haji Said bahwa panji dan Kitab Suci Al Qur’an tersebut harus diantarkan dan diletakkan pada suatu tempat dengan ciri-ciri:

1)      Halaman mesjid yang permukaan tanahnya tiggi, atau pada permukaan tanah tinggi yang ada  tanda-tanda akan dibangun mesjid
2)      Bangunan mesjid itu berada pada persimpangan sungai yang bercabang tiga dengan arusnya mengalir ke kiri dan kekanan
3)      Disamping mesjid itu ada sebuah sumur
Setelah melaksanakan ibadah haji, maka Haji Said pun pulang ke tanah Banjar dengan menumpang kapal laut yang memakan waktu berbulan-bulan, namun malang pada saat kapal laut mendekati tanah jawi, tiba-tiba datang badai yang menenggelamkan kapal tersebut. Semua penumpang yang terdiri dari para jamaah Haji tenggelam dan hanya beberapa saja yang selamat dan terdampar di pantai, diantara yang selamat tersebut termasuk Haji Said.
Karena ia membawa amanat penting tentang panji-Panji dan Al Qur’an untuk di bawa,maka benda ini lah yang semampunya ia selamatkan
Kedua panji dan Al Qur’an ini kemudian di bawanya mengikuti jalan-jalan pantai yang tidak berpenghuni itu.
Setelah berjalan kaki dengan cukup jauh didaerah pantai tersebut,maka ditemukannya lah sebatang pohon yang sangat besar dan tinggi namun tidak mempunyai daun. Haji Said berpikir mungkin dengan memanjat pohon yang tinggi ini ia dapat melihat kesegala arah dan syukur-syukur dapat menemukan perkampungan. Dengan dasar pemikiran ini maka dipanjatnya lah pohon yang besar dan tinggi tersebut sampai ke puncaknya.
Namun harapannya sia-sia saja, karena apa yang dilihatnya sejauh mata memandang hanyalah hutan belantara, harapannya untuk menemukan perkampungan penduduk pun pupuslah sudah.
Tanpa terasa haripun menjelang senja dan ia masih berada dipuncak pohon besar tersebut,tanpa diketahuinya ternyata pohon besar tersebut adalah sarang burung garuda raksasa, tak berapa lama kemudian disaat malam menjelang datanglah burung garuda tersebut.
Sambil diliputi rasa takut, maka bersembunyilah Haji Said diantara ranting pepohonan tersebut, sambil diliputi perasaan cemas karena menurut perkiraannya burung garuda itu pastilah termasuk burung yang buas, namun terpikir pula olehnya barangkali dengan menaiki burung garuda ini ia dapat lebih mudah menemukan perkampungan.
Ditengah malam ketika burung garuda nyenyak tertidur, dengan keberanian yang tersisa ditambah dengan niat untuk menunaikan sebuah amanah maka diikatkannya lah badannya kesalah satu kaki burung garuda dengan menggunakan serbannya.
Keesokan harinya burung garuda itupun terbang meninggalkan pohon besar sarangnya, Haji Said yang telah nekat berada dikaki burung garuda tersebut ikut terbawa terbang tinggi diangkasa sambil memegang panji dan Al Qur’an.
Setelah sekian lama terbang diudara akhirnya burung garuda itu terbang merendah dan dari atas tampak beratus ekor hadangan atau kerbau yang sedang asyik makan rumput di lapangan hijau di tepi sungai.
 Rupanya burung garuda itu sedang mencari makan dan sedang mengintai salah seekor kerbau yang akan akan di jadikannya mangsa.
Haji Said berpikir bahwa inilah saatnya ia turun dari kaki burung garuda, keyakinannya meyakini pastilah disekitar situ terdapat perkampungan, sebab kerbau-kerbau itu pastilah ada yang memeliharanya.
Pada saat urung garuda turun ketanah dan menyambar kerbau buruannya, maka Haji Said secepatnya melepaskan dari ikatan badannya pada kakiburung garuda.
Setelah berada di tanah, dia pun berjalan membawa panji dan Al Qur’an sampai pada akhirnya ia menemukan suatu tempat yang sesuai dengan apa yang di syaratkan sebagai tempat meletakkan benda amanat tersebut. Yaitu adabangunan mesjid sederhana dan berada pada persimpangan sungai juga didepannya terdapat tanah yang agak tinggi.
Kemudian diletakkanyalah panji-panji dan Al Qur’an tersebut pada tanah tinggi di depan mesjid tersebut, dalam kesempatan tersebut ia tertarik pula memperhatikan sungai di depan mesjid,karena menurutnya aliran sungai tersebut sangat aneh yaitu sungai yang bercabang dua tersebut, aliran cabang yang satu airnya jernih sedang aliran cabang yang kedua berwarna keruh.
Karena tertarik dengan keanehan aliran sungai ini,dicelupkannya lah telunjuknya kepermukaan air yang berwarna keruh, dan semakin terkejut pula setelah diangkat telunjuk tangannya dari permukaan air,berubahlah telunjuk tagannya menjadi batu.
Dengan perasaan sedih, terkejut, heran bercampur aduk tak menentu, disadarinya lah di dalam hati bahwa ini adalah kuasa dan kehendak Sang Maha Pencipta, masih untung telunjukku sajayang berubah menjadi batu dari pada seluruh tubuhku yang menjadi batu.tentulah kejadian ini ada hikmaknya demikian pikir Haji Said.
Dengan kejadian ituia kemudian member gelar dirinya Haji Batu,dan telunjuknya yang sudah menjadi batu tersebut ternyata benar-benar ada hikmahnya, dengan telunjuk batu itu ia kemudian menjadi tabib yang dapat menyembuhkan penyakit.
2.                  Cerita II :    
cerita yang ke II ini menceitakan bahwa, panji-panji tersebut ‘jatug’ dari langit. Kejadian ini terjadi pada malam ke 21 bulan Ramadhan atau malam salikur dalam bahasa banjar, dan jatuh nya panji-panji itupun tepat pada bagian tanah tinggi di halaman mesjid yang berada pada simpang tiga sungai.
Dengan jatuhnya panji-panji ditempat itulah yang menyebabkan kampung tersebut di namakan Desa Jatuh.
3.                  Cerita III :
Dalam cerita ini diceritakan pula bahwa panji-panji dan Al Qur’an ini dibawa oleh seorang penyebar agama Islam bernama Said Muhammad Yusuf dari Martapura yang juga merupakan penasehat agama kerajaan Banjar.
Beliau kemudian meletakkan Panji-panji dan Al Qur’an tersebut pada mesjid yang pada saat itu bernama kampung Banua Budi yang kemudian menjadi Desa Jatuh.

Sumber Penulisan :
1.      Hasil wawancara,biodata informan : Hj. Habibah, Kelahiran Jatuh 1943, Pekerjaan Pensiunan PNS, Alamat Desa Banua Budi RT.04
2.      Buku panji da’wah islamiyah, Drs. Syamsiar Seman, Yayasan Mesjid Al A’la desa jatuh barabai, 1979
Sumber fhoto :
1.        Pribadi

Minggu, 10 Februari 2013

Corat Marot KartuJamkesmas2013 di kecamatanTebingTinggiKabupatenBalangan



TebingTinggi, 22 Desember 2012. Jauh sebelum kartu jamkesmas untuk tahun 2013 di bagikan sebenarnya sudah muncul perasaan takut bahwa kartu jamkesmas tidaklah sesuai dengan sasaran yang diharapkan, dan perkiraan ini pun pada akhirnya tidak dapat dipungkiri telah menjadi kenyataan, Bapak Fahrul kepala desa sungsum kecamatan Tebing Tinggi menjelaskan bahwa kartu jamkesmas ini memang tidak sesuai dengan harapan karena dari daftar nama penerima kartu jamkesmas didesanya ada yang tidak bisa di katakan sebagai keluarga miskin apa lagi hampi rmiskin, karena dari rumah,perabotan dan sebagainya saja sudah nampak bahwa mereka bukan kategori tersebut, bahkan menurutnya ada warga yang pekerjaannya adalah Pegawai Negeri Sipil yang secara langsung merupakan peserta Askes malah terdaftar sebagai penerima kartu jamkesmas. Sedang mereka yang pada kenyataannya adalah warga miskin tidak terdaftar sama sekali. “ kalau kartu Jamkesmas ditujukan untuk Masyarakat miskin ini jelas tidak benar,data apa yang digunakan dalam penentuan penerima kartu jamkesmas ini? ” katanya dengan tegas. dengan jujur ia mengaku merasa takut bahwa pembagian kartu Jamkesmas ini akan menjadi pemicu adanya anarkisme di desanya, dan Ia juga menakutkan bahwa ini semua akan menimbulkan fitnah kepadanya bahwa adanya permainan tertentu antara perangkat desa dengan penetapan data penerimakartu Jamkesmas.
Di desa Mayanau juga mengalami hal yang sama, dari masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa ia tidak temasuk masyarakat yang menerima kartu Jamkesmas untuk tahun 2013, sedang tetangganya yang secara ekonomi jauh diatasnya menerima kartu jamkesmas, “ nini pang rumahUlun (inilah rumah saya_Banjar Red)” katanya sambil mengajak penulis untuk mampir kerumahnya yang beratap daun rumbia dan untuk penerangan ikut parallel tetangganya, kemudian ia menunjukkan rumah tetangga samping rumah yang menerima kartu Jamkesmas,rumah tersebut teramat kontras dengan rumahnya, rumah tersebut Nampak lebih kokoh dibandingkan dengan rumahnya, beratap seng, terdapat antenna parabola dan kendaraan roda dua tahun terbaru bernaung di pelataran rumah tersebut, “padahal ulun tamasuk panarima kartu jua sebelumnya (padahalsayatermasukpenerimakartujugasebelumnya_red).

Jamkesmas atau Jaminan Kesehatan Masyarakat adalah salah satu program penanggulangan kemiskinan dan perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat berupa jaminan kesehatan kepada masyarakat Indonesia yang berpenghasilan rendah (miskin dan rentan miskin).Berbeda dengan criteria penerima kartu jamkesmas pada tahun 2012 yaitu masyarakat miskin dan sangat miskin, maka untuk tahun 2013 kriteria penerima kartu jamkesmas adalah sangat miskin, miskin, hampir miskin dan rentan miskin. Dengan memperhatikan criteria ini dan memperhatikan kehidupan di Kabupaten Balangan seharusnyalah jumlah peserta Jamkesmas akan meningkat, namun dari data di Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan diketahui bahwa Jumlah peserta sebelumnya adalah 26.043 jiwa dan untuk tahun 2013 jumlahnya berkurang hanya 22.827 jiwa. Norsamidi,S.Kep, Kasubag TU Puskesmas Tebing Tinggi Menjelaskan bahwa alasan berkurangnya jumlah peserta dan alasan penerbitan kartu baru ini adalah adanya kenyataan bahwa ternyata kartu jamkesmas tidak tepat sasaran, peserta sudah meninggal dunia, penduduk baru akibat kelahiran dan perubahan tingkat ekonomi, namun Ia juga berujar“Dinas Kesehatan dan jajarannya hanya menerima yang telah berupa kartu Jamkesmas, sehingga kami tidak dapat berbuat banyak jika ada warga masyarakat miskin yang luput dari pendataan karena data penerima dikelola oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan kemiskinan atau TNP2K”
Pengelola Jamkesmas Puskesmas Tebing Tinggi, Herry, AMK pada kesempatan yang sama ikut menambahkan bahwa apabila dalam pendistribusian kartu jamkesmas ini ada yang tidak tepat sasaran dalam artian bahwa ternyata penerima kartu jamkesmas tersebut secara ekonomi tidak termasuk kategori yang telah ditetapkan yaitu warga masyarakat yang sangat miskin, miskin, hampir miskin dan rentan miskin atau peserta Jamkesmas sudah meninggal, maka kartu wajib dikembalikan, sedang dalam pelaksanaan pendistribusian kartu kepeserta jamkesmas untuk wilayah Puskesmas Tebing Tinggi semua melibatkan tenaga kesehatan terutama Bidan Desa dan para perangkat desa penerima kartu jamkesmas, menyikapi permasalahan bahwa kartu jamkesmas ternyata ada yang tidak tepat sasaran ia menyatakan tidak dapat berbuat banyak tentang hal ini namun apa bila ini semua dianggap sebagai sebuah benang kusut maka untuk mengurai benang kusut ini kita harus menelusuri cikal bakal penerbitan kartu jamkesmas ini,ia mengatakan “ proses kepesertaan jamkesmas ini berdasarkan data dari BPS, yaitu Pendataan Program Perlindungan Sosial tahun 2011 yang kabarnya dilaksanakan di bulan juli agustus 2011 untuk memperoleh basis data terpadu rumah tangga dan keluarga sasaran, data ini digunakan untuk berbagai program bantuan dan perlindungan sosial yang akan dilaksanakan oleh pemerintah pada tahun 2012 – 2014, data ini kemudian diserahkan ke TNP2K atau Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, kemudian ditetapkanlah kepesertaan jamkesmas, oleh PT. Askes di beri Nomor kepesertaan Jamkesmas, dan di cetak oleh Kemitraan Balai Pustaka, sedang kementerian Kesehatan hanyalah menerima data kepesertaan Jamkesmas dan kemudian mendistribusikannya”
Kepala Puskesmas TebingTinggi, Rahmadi, AMK, menambahkan, “untuk mengatasi adanya masyarakat miskin yang tidak terdaftar dalam kepesertaan jamkesmas, disarankan untuk mengikuti kepesertaan Jamkesda Kabupaten Balangan, tidak banyak perbedaan antara jamkesda dan jamkesmas perbedaannya hanya terletak pada pendanaannya, apabila pada jamkesmas menggunakan dana APBN sedangkan Jamkesda menggunakan APBD Kabupaten Balangan. Sedang dalam pelayanan kesehatan yang di berikan tidak ada bedanya, apalagi sekarang ini Jamkesda Kabupaten Balangan sudah menunjuk Rumah Sakit Balangan, RSUD H. Damanhuri Barabai, RSUD Ulin Banjarmasin dan RSJD Sambang Lihum sebagai Rumah Sakit Rujukan, dan kalaupun dengan Rumah Sakit ini masih belum mencukupi juga kita bisa menggunakan Jaminan Kesehatan Provinsi atau Jamkesprov”tegasnya menjelaskan.
Nah apabila kenyataan sekarang bahwa kartu jamkesmas ini menjadi sebuah kecarot marotan, mungkin dengan adanya tulisan ini kita bisa mengurai benang kusut jamkesmas 2013, selanjutnya apabila harus menjadi orang yang kritis dengan mempertanyakan ini salah siapa? Penulis bukanlah seorang hakim yang mampu membuat Pernyataan siapa yang benar dan siapa yang salah, namun dengan tulisan ini penulis ingin mengajak pembaca untuk berpikir dan silahkan menentukan siapa saja yang patut di salahkan apabila kartu Jamkesmas ini adalah sebuah permasalahan. []

Jumat, 09 November 2012

PANGKALAN TERAKHIR TENTARA ALRI BIRAYANG


Monumen gerilya ALRI Birayang

Pangkalan ini terletak tidak jauh dari Pasar Birayang, hanya beberapa puluh meter saja, sebegitu menyeberang jembatan birayang, melewati Monumen Gerilya ALRI, ambil jalan sebelah kiri, tampaklah sudah pangkalan itu.
RILA MATI BABANTAL TUMBAk DARI PADA HIDUP DIPERBUDAK, semboyan ini nampak tertulis bertatah dengan hurup besar didinding Beton bercat biru laut sebelah kanan,nampak sangat kontras dengan sinar matahari pagi yang baru bersinar kala itu, ada kesan keberanian, keikhlasan, ketulusan tanpa pamrih dan kekuatan semangat berjiwa rela berkorban maha besar yang kurasakan , kalaupun terasa angkuh…..biarlah, sepantasnya semua ini ada dan diucapkan oleh mereka, kuucapkan kata-kata ini berulang-ulang namun aku juga tidak berani berlama-lama memandangi terlalu lama tulisan ini, aku tertunduk begitu kuat rasanya tulisan ini, aku merasa malu dan merasa tidak pantas berada di tempat itu.bagian tengah dari tempat aku berdiri nampak logo keemasan berlambang sauh, padi dan kapas dan 5 bamboo runcing.dan pada bagian dinding beton sebelah kiri bertatah tulisan Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan Birayang……kuambil secarik kertas dari dalam ransel dan kutuliskan disana ‘Terimakasih pahlawan’ dan kuletakkan di bawah logo keemasan itu.
Hari itu, ditempat itu, aku melihat semboyan bukan hanya ada diucapan, aku menjadi saksi perkataan Teman sehati_teman sejati di praktekkan dalam arti yang sebenarnya,berbagi peluh, darah dan kesetiaan, aku merasa malu karenanya….. pertemanan sejati_sehati yang kualami hanyalah sampai kepada berbagi rokok,berbagi nasi kotak sisa seminar karena kiriman dari kampung yang datang telat, berbagi hasil contekan ujian kala kuliah, berbagi kasur sebagai tempat merebahkan badan pada saat harus keluar dari kost karena sudah tak mampu bayar atau di kala kecil dahulu berbagi nangka, jeruk, pisang tetangga yang kami curi dari kebunnya, kuusap mataku yang sedikit berawan, tidak ada camar terbang, tidak ada angin laut, tidak ada laut biru, tidak ada pula pasir pantai, …….aku memang bukanlah berada di pangkalan Angkatan Laut dalam arti sebenarnya tapi aku berada di Makam Pahlawan Tentara Angkatan Laut Republik Indonesia Divisi IV pertahanan Kalimantan birayang, hanya ada 26 nisan berbaris 2, terpampang nama di batu nisan itu mulai dari kiri kekanan pada bagian depan Baseri, Amat Anul, H. Damanhuri, H. Saruji , H. Rusli P, H. Ahmad bin Yahya, Anang Acil, A Tuul, Sahran, halid dan Made Gawis, dan Pada Baris ke dua tertulis nama Semarang, Marjuni, Amberi, Caba, Tiung, Baslin, Tukacil, Mayor, Gurdan, Yurkani, Parmali, Mukeri, Masdar, Hamzah dan Aini.
Makam Pahlawan Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan Birayang
Di Monumen Gerilya ALRI yang tidak seberapa jauh dari Makam Pahlawan ini ada tatahan tulisan B.P.R.I.K (Barisan Pemberontak Republik Indonesia), GERPINDOM (Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka), GERIMRI (Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia), MTKI (Mandau Telabang Kalimantan Indonesia), Ps Sabilillah (Pasukan Sabilillah) dan B.B (Banteng Borneo),dalam buku Proklamasi Kesetian Kepada Republik,karangan Wajidi dikatakan bahwa perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Selatan dimulai sejak Perang Dunia II berakhir, dan Pengiriman Tentara Republik ke Kalimantan baik secara berkelompok atau sendiri-sendiri lebih memungkinkan melewati laut, tanggal 4 April 1946 dibentuk ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan dengan Panglima Letkol. Zakaria Madun dan Kepala Staf May. Firmansyah, 6 bulan kemudian yaitu tanggal 10 Oktober 1946 dikirimlah ekspedisi penghubung yang di pimpin oleh Letnan II Asli Zuhri dan wakilnya Letnan Muda Mursyid Seman ke Kalimantan dengan tugas pokok membentuk organisasi ALRI Divisi IV di Kalimantan Selatan dan menyatukan organisasi-organisasi perjuangan yang ada ke dalam ALRI Divisi IV, untuk melakukan tugasnya mereka berusaha menemui Hasan Basry di pedalaman Kalimantan Selatan. Setelah melalui serangkaian pertemuan dan Pembicaraan  dengan Hasan Basry, maka pada tanggal 18 Nopember 1946 di Desa Tabat Haruyan didirikanlah satu Batalyon dengan nama Batalyon Rahasia ALRI Divisi IV”A” Pertahanan Kalimantan, Hasan Basri diangkat menjadi Komandannya dengan kesediaan menyatukan Laskar-laskar perjuangan di kalimanta Selatan, nah nama-nama badan kelaskaran di Monumen Gerilya ALRI diatas merupakan sebagian dari sekian banyak Badan Kelaskaran yang menggabungkan diri dengan ALRI Divisi IV.
Dan dihari ini 10 november 2012, di hari pahlawan, aku berdiri di pangkalan terakhirmu…….setangkup do’a dan ucapan terimakasih kuucapkan, “terimakasih pahlawan, terimakasih untuk semua, terimakasih.