Senin, 29 Agustus 2011

Jamban Sehat yang Terbentur Budaya

Penulis di depan balai adat kambiyain,dayak pitap
catatan ini bukan berdasarkan hasil survey menyeluruh, ini hanya kusimpulkan dari hasil tanya jawab dengan kader pamsimas desa kambiyain


Dari postingan diinternet tanggal 16 Januari 2010, dikatakan bahwa pada tahun 2014 Pemerintah akan melarang masyarakat membuang tinja (buang air besar/BAB) ke tempat-tempat terbuka, seperti di kali, kebun maupun persawahan. Pasalnya, limbah tinja yang dibuang sembarang akan menggangu kesehatan dan sistem sanitasi penduduk……aku tersenyum sendiri, apa pemerintah baru sadar kalau BAB sembarang akan bisa mengganggu kesehatan dan sistem sanitasi penduduk??, pasti tidaklah…..pemerintah pastilah sangat sadar, lagian yang duduk disana orang pintar semua. Cuma mungkin saja pemerintah masih ulbelum punya waktu untuk ngurusin masalah per’BAB’an masyarakatnya.
Jadi paling tidak sampai tahun 2014, para warga di wilayah kerja puskesmas tebing tinggi masih mempunyai kesempatan untuk membuang hajatnya disepanjang sungai yang membentengi di belakang rumah – rumah mereka. Tak bisa di pungkiri memang ini lah salah satu kebudayaan bagi bangsa kita yang tinggal di pinggiran sungai atau kali. Kami dari puskesmas memang sudah sering melakukan penyuluhan – penyuluhan, baik secara penyampaian langsung, tak langsung seperti menyebarkan aneka poster atau pamplet – pamplet kesehatan, bahkan dengan sistem pemicuan masyarakat, dengan harapan setelah di lakukan pemicuan akan menimbulkan perasaan malu, sehinggga tidak ada keinginan untuk mengulanginya lagi.namun kebiasaan ini masih tetap terulang dan berulang, bicara tentang kebiasaan…..semua kegiatan tepi sungai ini adalah kebiasaan turun temurun, yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Kultur masyarakat suku banjar dan dayak, secara turun temurun bermukim di sepanjang daerah aliran sungai, Sungai merupakan urat nadi kehidupan dan perekonomian masyarakat. Air sungai dimanfaatkan untuk keperluan hidup sehari-hari, minum, memasak, mencuci dan kakus,……sungai adalah sumber penghidupan.
Ada sisi menarik yang aku dan sanitarian Puskesmas Tebing Tinggi temui pada saat mempromosikan jamban keluarga ke anak desa Dayak pitap, Kambiyain. Kami berangkat kedesa ini dengan 2 orang Team Pamsimas. Pertemuan diadakan di Balai Adat Kambiyain, dalam pertemuan ini di hadiri oleh para tetuha adat dan kader – kader kesehatan.
Warga desa ini didiami oleh warga dengan kesukuan Dayak, yaitu dayak pitap. Untuk mencapai desa ini hanya bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan jalan kaki dengan jarak dari kecamatan tebing tinggi ± 7 KM, atau dengan menggunakan kendaraan Roda 2, karena jalan – jalan disini masihlah berupa jalan tanah tanpa pengerasan, sehingga apabila musim penghujan, jalan – jalan ini akan berupa kubangan lumpur berwarna kemerahan. Mereka membangun pemukiman persis didepan sungai kambiyain. Melihat keadaan sungai kambiyain akan sangat berbeda dengan sungai – sungai yang biasa kita jumpai di kota – kota, sungai disini masihlah sungai perawan, sungai dengan aliran deras tak terlalu dalam, jernih membelah bebatuan berwarna putih, bahkan karena begitu jernihnya sehingga kita dapat melihat dasar dari sungai kambiyain ini. Bagi aku pemandangan seperti ini amatlah jarang kudapatkan, suara aliran sungai dan hembusan angin membuatku betah berlama – lama ditempat ini. Namun sayangnya, seperti halnya masyarakat yang mendiami daerah aliran sungai, budaya pinggiran sungai pun berlaku di tempat ini, segala kegiatan harian bermula dan berakhir ditempat ini, bermula seperti mandi, cuci, sumber air minum dsb, dan pada bagian akhirnya membuang segalanya pun berakhir ditempat ini pula.
Dalam pertemuan dengan para tetuha adat ini kami mencoba mempromosikan tentang jamban sehat, sesuatu yang mungkin kedengarannya basi bagi sebagian orang, namun bagi penduduk yang berdiam di desa kambiyain masalah jamban sehat mungkin kedengaran seperti hal yang sering terdengar namun sulit untuk dilaksanakan, budaya pinggir sungai sudah mendarah daging di tempat ini……untuk merubah sesuatu yang telah mendarah daging tidaklah semudah membalikkan telapak tangan,meski team pamsimas bersedia untuk membantu pendanaan untuk pembangunan jamban sehat umum, namun masih banyak masyarakat yang masih belum siap untuk menggunakannya, kami sempat bingung kenapa…..telisik punya telisik ternyata ada keyakinan yang meyakini kalau BAB dengan model seperti ini tabu dan akan menjadikan hal – hal yang tidak baik. Mereka tidak ingin membuang hajat dalam satu tempat, mereka meyakini apabila hasil hajat mereka di buang dalam satu tempat ini akan menjadikan orang tersebut akan menemukan kesialan, akan menjadikan mereka selalu dalam sifat ‘panasan’……..benar – benar sebuah dilemma bagi kami semua, ternyata bukanlah hanya masalah keuangan yang menjadikan jamban sehat kurang begitu populer, kenyataan yang kami temui kini, jamban sehat haruslah  berbenturan dengan budaya.
Alam telah lebih dulu mengajarkan kepada mereka, kiranya hanya waktukah yang kan menjawab ini semua?? Kami termangu di kala itu, apakah ini sebuah kebenaran, ataukah ini hanyalah sebuah paksaan terhadap sebuah kebenaran.

Rabu, 24 Agustus 2011

oleh - oleh Pusling Iyam Desa Dayak Pitap

Penulis dengan balian iyam desa dayak pitap ,bp.waau
Mengunjungi desa Iyam yang merupakan salah satu anak desa Dayak Pitap di kecamatan tebing tinggi, Kabupaten Balangan, desa ini memang termasuk desa yang terpencil, desa ini terletak di kaki gunung hantanung, perjalanan ke desa iyam merupakan hal yang biasa bagi kami yang kebetulan bekerja di puskesmas tebing tinggi, kunjungan demi kunjungan yang kami lakukan kesana memang lah bagian dari rutinitas Kerja, yaitu kegiatan puskesmas  keliling yang rutin kami laksanakan setiap bulannya, biasanya kunjungan ini kami laksanakan diawal bulan, di minggu pertama pada hari rabu, hari rabu dipilh karena pada hari rabu ini merupakan hari pasar bagi anak desa dayak pitap ini, pasar iyam. Para warga desa pada hari ini akan turun dan memadati pasar kaget ini…..mereka kebanyakan mendatangi pasar ini dengan berjalan kaki, aneka kebutuhan yang di perlukan oleh masyarakat bisa di dapatkan di pasar ini,dalam hal transaksi kabarnya kadang praktek barter barang bisa terjadi. Dan sialnya selama kami melakukan kunjungan ke desa ini belum pernah melihat langsung bagaimana suasana pasar kaget ini, menurut cerita warga desa yang kami temui, pasar dadakan ini mulai buka pagi – pagi sekali, dan tutup pada kurang lebih  pukul 09:00 wita, sedang kami baru bisa sampai ke desa ini pada pukul 10:00 wita, kadang lantaran kesibukan kami di puskesmas pernah kami sampai ke desa ini pukul 11:30 wita, sehingga kami tak pernah merasakan seperti apa dan bagaimana kemeriahan pasar dadakan ini, mau ngga mau mereka yang ingin berobat atau mau memeriksakan kesehatannya kepada kami mesti menunggu dengan sabar kedatangan kami sehabis berbelanja di pasar.

Puskesmas keliling yang kami maksud tadi menurut Drs. Nasrul Effendy dalam bukunya ‘dasar – dasar keperawatan kesehatan masyarakat, edisi 2’  merupakan unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor roda 4 atau perahu bermotor yang di lengkapi peralatan kesehatan, peralatan komunikasi serta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas, secara fungsinya puskesmas keliling merupakan penunjang dan membantu melaksanakan kegiatan – kegiatan puskesmas dalam wilayah kerjanya yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan.
 Dalam catatan ku waktu kuliah dulu dikatakan bahwa kegiatan – kegiatan puskesmas keliling    ( Pusling )adalah :
1.     Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh pelayanan puskesmas atau puskesmas pembantu, 4 hari dalam 1 minggu
2.    Melakukan penyelidikan tentang kejadian luar biasa
3.    Dapat di pergunakan sebagai alat transportasi penderita dalam rangka rujukan bagi kasus gawat darurat
4.    Melakukan penyuluhan kesehatan dengan menggunakan alat audio visual

Ini semua merupakan sebagian kecil teori dasar yang di ajarkan kepada kami dalam pelaksanaan kegiatan di puskesmas, namun pada kenyataannya kami mesti pandai – pandai menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan, pada intinya kami bisa menyampaikan tujuan, maksud dan apapun itu yang ingin di capai dari puskesmas keliling ini.
Menurut pengertian diatas dikatakan ‘merupakan unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor roda 4 atau perahu bermotor dan peralatan kesehatan’ sedang untuk mencapai desa ini memang bisa dengan kendaraan roda 4, namun karena medan ke desa ini cukup berat, ada daerah menanjak dan jalan yang  masih belum dilakuakan pengerasan dengan baik, sehingga masih banyak batu batu jalanan yang tak rata, menonjol tak beraturan disana – sini , dengan keadaan seperti ini otomatis apabila kita harus dengan kendaraan roda 4, harus lah mempunyai drifer yang benar benar handal, dan berani, sedang kami di puskesmas belum ada sopir yang dapat diandalkan untuk medan- medan yang seperti ini, kebetulan lagi mobil puling yang juga merupakan mobil ambulance puskesmas tebing tinggi yang diberikan oleh depertemen kesehatan RI tidak berjenis 4WD,  sehingga kurang pas, kurang cocok untuk wilayah kerja puskesmas yang cenderung berbukit bukit ini.
Untuk menyiasati keadaan ini kami melakukan pusling dengan menggunakan kendaraan bermotor roda 2, team pusling kami di puskesmas terdiri dari berbagai profesi dalam dunia kesehatan diantaranya Dokter, Dokter Gigi ( saat ini di puskesmas tebing tinggi belum terdapat Dokter Gigi ),Paramedis, perawat Gigi, Juru Imunisasi, petugas Surveilans, petugas kesehatan lingkungan/ Sanitarian,petugas Gizi/ nutrisionis,Bidan,Asisten Apoteker ( dalam sejarahnya puskesmas tebing tinggi belum pernah mempunyai Apoteker ),dan Analis kesehatan / pekerja laboratorium kesehatan, namun pada kenyataannya kadang kami melaksanakan kegiatan pusling ini hanya dengan 2 buah kendaraan roda 2 sebanyak 4 orang petugas ,karena petugas yang lain lagi di sibukkan dengan tanggung jawab utama mereka di puskesmas, dengan kendaraan roda 2 kami  berboncengan sambil memanggul tas ransel besar berisi obat – obatan dan termos untuk menyimpan vaksin imunisasi.  

Jalan menuju kedesa iyam hanya bisa ditempuh lewat pertigaan desa gunung batu, kabarnya untuk sampai ke desa ini juga bisa melewati jalan yang lain, Cuma jalan ini hanyalah berupa jalan tikus yang hanya diketahui oleh warga desa dayak pitap, atau warga dayak lainnya,atau oleh mereka para penebang pohon yang biasa menyisir wilayah adat dayak pitap ini.jalan – jalan yang biasa kami kewati ini jangan samakan dengan jalan – jalan yang biasa di kota kota…..jalan ini jauh sekali dari kesan – kesan kenyamanan berkendaraan…….teramat jauh kiranya, jalan ini merupakan jalan tanah berwarna merah khas daerah pegununungan yang lantaran begitu seringnya dilewati menjadi alur alur jalan, memang ada usaha pengerasan yang dilakukan oleh masyarakat dan di bantu oleh pemerintah daerah, namun apalah artinya……jalan jalan ini tak akan bertahan dengan lama, pada musim penghujan jalanan ini akan menjadi lunak, kubangan lumpur dimana – mana……untuk berkunjung ke desa mamang lebih nyaman di lakukan pada musim panas, karena pada musim itu tanah menjadi lebih padat,meskipun tak bisa tidak, debu - Debu jalananan akan menjadi bagian dari perjalanan ini, namun tak bisa di pungkiri perjalanan ke desa iyam akan memberikan kesan tersendiri bagi kami, udara pegunungan yang segar, sisi kiri kanan jalan serasa memanjakan kami akan keindahan panorama alam yang tak bisa terlukis dengan kata – kata,deretan pohon karet merupakan hal lumrah disini, rimbun tanaman paku, atau   bambu di kiri kanan jalan yang membentuk gapura selamat datang karena rimbunnya,atau melihat hamparan ilalang hijau yang menyeruakan indah hijau kaki pegunungan, untuk menikmati ini semua  kami mesti menghentikan laju kendaraan untuk melepas lelah sambil menikmati, merenungi mengagumi segala indah ini, ketenangan ini, ketentraman ini dan semuanya, kadang di tepi jalan kami juga menemukan aliran sungai yang batu – batu gunungnya bersembulan, suara aliran sungai, kejernihan aliran sungai yang mungkin tak pernah mereka sadari akan keindahan ini, suatu melodi alam yang tak pernah kami tirukan namun hanya bisa kami rasa dalam nikmat alam ini.
Jarak dari puskesmas tebing tinggi ke desa iyam ini kurang lebih 10 kilometer,namun karena medan jalan yang belum terlalu bersahabat, kami harus menempuhnya kurang lebih 45 menit.

Desa iyam yang merupakan anak desa dari dayak pitap ini memiliki 3 sub anak desa lagi yaitu bangunan, bayuan dan rantau paku. Entah apa arti dan maksud dari penamaan - penamaan ini, kami tidak sempat menanyakan hal ini……sub desa bangunan adalah sub desa pertama yang kami temui, meskipun ini yang pertama, namun kami menempatkan sub desa ini sebagai sub desa terakhir yang kami singgahi dalam setiap pusling ke daerah iyam, penyebaran agama Kristen sudah sampai disini, namun itupun belum begitu berkembang, hanya disekitar gereja yang memeluknya, sedang yang bertempat tinggal agak jauh dari gereja masih mempertahankan kepercayaan adat leluhur yang di sebut kaharingan dan dijadikan sebagai agama bagi mereka, disini pun ada Polindes ( Pondok bersalin desa ) yang dibangun secara permanen, meski tak ada bidan desa yang menempati dan bahkan kunjungan bidan desa secara khusus, paling paling pas pelaksaan pusling lah bidan desa datang berkunjung, itupaun bukan bidan desa yang memang di tempatkan di sini. Puskesmas tebing tinggi memang sangat kekurangan sekali bidan kesehatan, saat ini di puskesmas hanya memiliki 2 bidan,yaitu 1 orang bidan coordinator dan 1 bidan desa yang ditempatkan di desa Auh, entah dengan penerimaan CPNS tahun ini apakah akan ada penambahan tenaga bidan, dari desas desus yang kami dengar, rata rata para bidan kurang begitu tertarik mengikuti test CPNS di kabupaten balangan karena ada anggapan semua bidan yang lulus di kabupaten ini akan di tempatkan di desa – desa terpencil, apalagi sekarang ini para pelamar CPNS sudah tahu seandainya lulus akan ditempatkan di mana, di beritahukan daerah mana saja di kabupaten balangan ini yang memang memerlukan bidan desa atau tenaga CPNS lainnya,dan disaran kan menentukan daerah yang akan ditempatinya, artinya sebegitu mereka lulus seleksi, mereka akan di tempatkan sesuai dengan daerah yang dipilihnya. Di sub desa ini sarana pendidikan Cuma ada 2 SD denagan perincian 1 SD induk yaitu SDN Dayak pitap dan 1 SD kecil,SD Rantau Paku di ujung anak desa, Rantau paku, jadi para siswa SD kelas 1 s/d 3 bisa menempuh pendidikannya tingkat dasar di SD induk  ( SDN Dayak pitap ) atau di SD Rantau Paku, sedang untuk kelas 4 s/d kelas 6 hanya bisa dilakukan di SD induk, SDN Dayak pitap. Entah seperti apa para dewan guru nya mengatur jadwal mengajarnya.
Sub anak desa ke 2 di iyam ini adalah bayuan, disini nampaknya tak terlalu banyak rumah penduduk yang tampak, namun menurut kepala RT II dayak pitap yang kebetulan memang bertempat tinggal di bayuan mengatakan bahwa sebenarnya sebagian penduduknya membuat rumah di dekat kebun mereka di belakang perkampungan bayuan ini, jadi makanya rumah penduduk yang ada di pinggiran jalan ini tampak sangat sedikit, dan disini pun terdapat balai adatnya bagi mereka sub desa bayuan dan sebagian warga sub desa bangunan yang tidak memeluk agama Kristen,karena di sub desa bangunan memang tidak terdapat balai adat.
Sub desa paling ujung dari anak desa dayak pitap iyam ini adalah Rantau paku, di sub anak desa ini terdapat pasar kaget yang rutin dihari rabu, SD  kecil rantau paku, dan balai adat, bicara tentang balai adat, jangan di bayangkan laksana bangunan permanen, untuk bakai adat di dayak pitap hanya di desa ajung yang tampak lebih baik, di iyam balai adat berupa bangunan kayu yang Nampak nya tidak di buat dengan kayu pilihan, balai adat ini apabila dilihat dari luar Nampak seperti rumah penduduk pada umumnya, tidak ada papan penunjuk atau plang nama bangunan  yang menjelaskan bahwa ini adalah balai adat, hanya ukurannya saja yang Nampak lebih besar di bandingkan rumah – rumah penduduk lainnya, dinding bangunan yang dari kayu di pakukan ke bilah – bilah penyangga bangunan menggunakan paku dengan model dalam istilah banjar susun sirih, pada bagian luar Nampak poster kandidat calon bupati balangan untuk tahun 2010 – 2015, dibalai adat inilah posko pusling iyam kami, untuk masuk kedalam balai bisa lewat pintu samping dan lewat depan, lantai pelataran depan terdiri dari susunan batang bambu, sedang lantai pelataran samping terdiri dari kayu papan meski memang bukan dari kayu pilihan, entah apakah ini ada maksud tersendiri atau mungkin lantaran memang kekurangan dana? Entahlah……untuk memasuki ruangan balai kita wajib melepaskan alas kaki, bentuk ruangannya persegi panjang, saat memasuki terasa pengap, sepertinya bangunan ini jarang dibuka oleh penghuninya,balai adat suku dayak pitap biasanya di huni oleh pengurus balai sekaligus balian Desa, dan balai adat ini sepertinya memang di peruntukkan bagi balian beserta keluarganya. dalam kehidupan dayak memang tak bisa lepas dari peran seorang balian, balian ini biasanya berperan sebagai pengelola balai, Dukun desa, penghulu, dan pemimpin spiritual.
yang namanya balai pastilah tidak ada kamar – kamarnya, demikian pula dengan balai adat dayak pitap rantau paku, desa iyam ini, untuk memasak bagi balian dan keluarganya ada di bagian belakang balai, berlantai bambu, untuk memasak masih menggunakan tungku kayu bakar,penerangan bersumber dari listrik tenaga surya hasil bantuan dari pemerintah kabupaten balangan, yang menurut balian hanya bisa bertahan selama kurang lebih 6 jam, namun itupun tergantung beban pemakaiannya, sebagai penerangan dengan 1 buah lampu sejenis lampu TL 10 watts mampu bertahan selama itu, namun apabila di beri tambahan 1 lampu sejenis lagi, paling hanya mampu menerangi separuh waktunya saja, sisa nya terpaksa menggunakan lampu templok.
Bangunan ini tak tampak ada perabotan layaknya rumah berpenghuni, dan sepertinya para penghuninya benar – benar apa adanya, tak ada yang istemewa, untuk tidur dan istirahat balian dan keluarganya tidur di pinggir ruangan dengan baralas tilam kapuk yang bisa digulung dan di pindahkan kemana mana, untuk menghindari gigitan nyamuk mereka tidur menggunakan kelambu, yang di jejer dari kiri kekanan pinggir – pinggir ruangan balai adat. yang cukup menarik bagi kami adalah pada  dinding balai adat bagian dalamnya penuh dengan tempelan poster – poster para artis india dan Indonesia ini terdapat juga poster ayat – ayat suci Al Qur’an, kami berpikir mungkin mereka menyenangi kaligrafi Al Qur’an yang indah ini dan bukan lantaran maksud – maksud lainnya,…. sama halnya mungkin dengan kita yang merasa gagah, PD saat mengenakan baju kaos oblong bertuliskan hurup kanji cina atau jepang namun kita sendiri kadang tak tahu sama sekali apa arti tulisan atau makna tulisan tersebut.
Fungsi balai adat tidak hanya sebagai tempat melaksanakan upacara adat, juga di gunakan sebagai tempat upacara perkawinan, penyembuhan penyakit oleh balian dan tempat berkumpul bermusyawarah dan sebagainya yang bersifat kemasyarakatan.
susungkulan
Pada bagian tengah ruangan balai adat tedapat susungkulan dan sangkar batang, susungkulan adalah bale bale besar berukuran kurang lebih 2 x 3 meter persegi dengan tinggi kurang lebih 3,5 meter, susungkulan biasanya terbuat dari 4 buah tongkat kayu, atau bambu,persis seperti bale bale tempat lesehan hanya susungkulan lebih tinggi, pada upacara adat, seperti upacara syukuran sehabis panen,pesta perkawinan susungkulan ini akan di beri hiasan hiasan dari janur kuning kelapa,segala sesajian ditempatkan dalam keranjang yang diikatkan ke tiang susungkulan atau pada lantai susungkulan bagian atas, para balian akan menari dengan menghentak hentakkan kaki mengelilingi susungkulan tanpa henti, seorang balian selain harus mengetahui tentang adat istadat dan mantra – mantra juga harus memiliki fisik yang kuat,karena selama upacara adat,balian akan terus Batandik (menari sambil menghentak kaki)  tanpa istirahat selama upacara dilangsungkan,siang dan malam, dalam uapacara adat ini kabarnya balian ini selain karena memang memiliki fisik yang kuat, mereka mampu Batandik tanpa henti kabarnya mereka kuat dan mampu melakui karena memang kerasukan arwah roh nenek moyang yang mereka panggil,upacara adat ini selain wujud rasa syukur juga merupakan media penghubung antara alam kita dengan dunia para leluhur. Hiasan susungkulan dari janur kelapa ini akan dibiarkan layu dan mengering pada tempatnya dan hanya boleh diganti apabila akan dilaksanakan upacara adat  selanjutnya atau acara – acara adat lainnya.
sangkar batang
pada gambar disamping dinamakan sangkar  batang, sangkar batang ini terbuat dari sebatang bambu besar yang pada bagian atas dibelah empat sehingga menyerupai sangkar, isi dari sangkar adalah bakul kecil dari anyaman rotan atau bambu  sangkar batang ini di gunakan sebagai media berhubungan dengan roh para leluhur untuk meminta pertolongan penyembuhan dari penyakit yaitu  penyakit – penyakit yang sudah di kategorikan gawat yang sudah tidak bisa lagi dapat diatasi oleh tenaga kesehatan atau sudah sekarat, metode pengobatan ini di kenal oleh masyarakat dengan sebutan babalian, untuk babalian biasanya dilaksanakan selama 4 hari secara terus menerus siang dan malam, acara babalian ini dipimpin oleh balian yang di bantu oleh beberapa pembantu yang merupakan balian dibalai – balai adat dayak pitap lainnya membantu pelaksanaan acara babalian, hari pelaksanaan hanya bisa dilaksanakan pada hari senin sampai dengan kamis, acara di mulai sejak senin sore dan selesai pada kamis malam, syarat yang harus di sediakan oleh orang yang ingin di babalian mesti menyediakan sedikitnya 2 ekor kambing, semakin parah penyakit yang di deritanya smakin banyak  jumlah kambing harus disediakan, menurut balian desa iyam syarat sedikitnya 2 ekor kambing ini tidak bisa di gantikan dengan hewan ternak lainnya, termasuk babi, bahkan menurut beliau lagi apabila ternak yang digunakan adalah babi, para roh leluhur tidak mau datang karena babi dianggap kotor, padahal babi termasuk hewan yang biasa di konsumsi oleh warga desa dayak pitap.
layar balai adat bayuan iyam, dayak pitap
Pada pelataran depan balai adat terdapat tiang dari bamboo yang menyerupai antene telivisi, oleh warga dayak pitap dinamakan layar, mengenai tinggi tiang tidak ada ukuran yang pasti yang penting harus lebih tinggi dari atap – atap rumah,atau ada penjelasan harus dengan menggunakan kayu apa tiang ini terbuat, pemilihan bambu sebagai tiang karena tanaman bambu mudah di dapat dan lumayan panjang serta lurus, pada bagian atas yang seperti antene telivisi ini digantungi dengan kayu yang membentuk segi tiga sama sisi dan mengarah ke 4 arah mata angin, ini merupakan alat untuk mengantarkan sinyal atau tanda untuk menghantarkan berita ke dunia para leluhur bahwa di dalam balai adat sedang diadakan upacara pemanggilan arwah atau roh para leluhur, kemungkinan berbentuk segitiga sama sisi ini berhubungan dengan hikayat dayak yang menyatakan bahwa apabila mereka meninggal akan berada pada burung enggang, sehingga apabila mereka datang memerlukan tempat untuk hinggap, kemudian lagi lewat jalan inilah para arwah atau roh para leluhur akan kembali lagi ke alam nya lagi.
Gambaran seorang balian dalam suku dayak pitap tidak tampak nyata, tidak ada ciri khusus yang menampakkan bahwa ia adalah seorang balian, seperti pakaian khusus atau atribut – atribut yang mesti disandang atau disematkan, bahkan menurut bapak kepala adat tidak ada pakaian adat yang menandakan bahwa ia adalah warga suku dayak pitap. Sekarang, para balian terlihat lebih modern karena boleh menggunakan pakaian modern.
semangat dari pedalaman......siswa SDN Rantau Paku di balai adat

Selasa, 23 Agustus 2011

the mercy : band legenda

lagu ini judulnya ''biarkan ku sendiri'.....lagu yang dipopulerkan oleh band The Mercy's sekitar tahun 70'an, namun sampai sekarang lagu ini masih tetap untuk dinikmati,lagu ini dulu adalah lagu pavorit orang tuaku sehingga sejak dari dalam kandungan aku sudah biasa mendengar lagu ini.di video ini lagu ini saya mainkan dengan gitar acoustik seharga Rp.100.000,- tidak untuk menghina,membajak atau apapun jua, namun hanya ingin memberikan rasa hormat kepada band The Mercy's, namun apabila dalam video tersebut ada hal-hal yang tidak menyenangkan sekali lagi tidak ada niatan buruk, hanya ingin menyatakan bahwa video ini di buat secara spontanitas,dan sejujurnya tak jarang lagu ini menjadi bagian bagi kami . band ini terbentuk pada tahun 1969 di medan,sumatra utara dengan anggota Rinto Harahap (bass) Erwin Harahap (lead guitar) Rizal Arsyad (rhythm guitar),reynold pangabean (drums) dan Alexander “Bun” (keyboards). Charles Hutagalung menggantikan posisi alexander sebagai keybordis sekaligus lead vokal. charles dan Rinto banyak menulis dan membuat lagu di band ini. Albert Sumlang kemudian ikut bergabung dan memberi warna dengan permainan saxopon yang khas,lagu yang sangat penomenal dengan permainan saxoponnya kisah seorang pramuria

Minggu, 21 Agustus 2011

salute for the mercy

lagu ini judulnya 'biarkan ku sendiri' .....lagu yang dipopulerkan oleh band The Mercy's sekitar tahun 70'an, namun sampai sekarang lagu ini masih tetap untuk dinikmati,lagu ini dulu adalah lagu pavorit orang tuaku sehingga sejak dari dalam kandungan aku sudah biasa mendengar lagu ini.di video ini lagu ini saya mainkan dengan gitar acoustik seharga Rp.100.000,- tidak untuk menghina,membajak atau apapun jua, namun hanya ingin memberikan rasa hormat kepada band The Mercy's, namun apabila dalam video tersebut ada hal-hal yang tidak menyenangkan sekali lagi tidak ada niatan buruk, hanya ingin menyatakan bahwa video ini di buat secara spontanitas,dan sejujurnya tak jarang lagu ini menjadi bagian bagi kami . band ini terbentuk pada tahun 1969 di medan,sumatra utara dengan anggota Rinto Harahap (bass) Erwin Harahap (lead guitar) Rizal Arsyad (rhythm guitar),reynold pangabean (drums) dan Alexander “Bun” (keyboards). Charles Hutagalung menggantikan posisi alexander sebagai keybordis sekaligus lead vokal. charles dan Rinto banyak menulis dan membuat lagu di band ini. Albert Sumlang kemudian ikut bergabung dan memberi warna dengan permainan saxopon yang khas,lagu yang sangat penomenal dengan permainan saxoponnya kisah seorang pramuria

Sabtu, 20 Agustus 2011

LAMANG….MAKANAN DARI ZAMAN PRA SEJARAH


Bulan Ramadhan yang merupakan bulan ke-8 dalam kalender Hijriah atau lebih dikenal sebagai bulan puasa telah tiba, disebut juga bulan puasa karena di bulan ini seluruh umat islam diseluruh dunia melaksanakan puasa,selama bulan puasa ini dimana-mana tergelar pasar dadakan yang hanya ada di bulan ini sehingga pasar ini pun diidentikkan sebagai pasar ramadhan, tidak di kota dikampung-kampung pun digelar pasar ramadhan yang mulai buka dan terlihat geliatnya seusai shalat dhuhur sekitar pukul 12:30 wita sampai menjelang saat berbuka puasa sekitar pukul 18:30 wita sebelum shalat magrib.
Makanan ataupun penganan yang sebelumnya susah didapati atau ditemukan, semua mudah didapat dan ditemui di pasar dadakan ini. Diatara makanan atau penganan yang kebetulan makanan kegemaranku adalah lemang atau lamang dalam bahasa banjar. Sejujurnya terbersit dalam pikiranku bahwa lamang ini adalah makanan khas Indonesia, namun pikiran ini menjadi kabur, dan sirna seketika saat aku ikut menonton dengan kemenakanku Film kartunIpin dan Upin ternyata di Malaysia, makanan ini pun ada dan menjadi makanan khas lebaran. Terbersit pula dalam pikiranku, jangan-jangan makanan ini pun telah di klaim dan di patenkan sebagai keragaman khasanah kuliner negeri jiran ini.
Dinegara kita hampir semua penduduknya mengenal makanan atau penganan ini, di Kalimantan Selatan sebagai daerah yang penduduk aslinya adalah dari etnis banjar dan dayak, lamang merupakan makanana yang istimewa, karena makanan dari beras lakatan(beras ketan)yang dimasak dengan air santan yang kemudian di masukkan tidak kedalam kuali namun kedalam bumbung paring (ruas batang Bambu) baik dibungkus dengan daun pisang atau tanpa sekalipun dan kemudian di panggang diatas bara api ini merupakan makanan yang wajib ada dalam ritual-ritual keagamaan, sebagai contoh orang suku banjar menyediakan lamang diacara Khataman Al-Qur’an, Khitanan, Pernikahan dan bahkan sampai kepada terafi buang sial (Batatamba) dan lain sebagainya, sedang bagi orang suku dayak, terutama dalam hal ini adalah dayak pitap,lamang adalah pelengkap sesaji wajib ada dalam aruh (Kenduri) adat seperti baharin, babalian (pengobatan penyakit khas dayak), acara sacral pemberin nama dan sebagainya. Sebagai penggila lamang, lamang paling enak yang pernah kurasakan adalah lamang dari kecamatan Tebing Tinggi kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan. Lamang ditempat ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan lamang lamang ditempat lain, namun mungkin karena lamang – lamang disini di masak atau ditanak dalam bumbung paring muda bagian pucuknya sehingga menghasilkan cita rasa yang berbeda dengan lamang pasaran lainnya,serasa makan nasi ketan lengkap dengan kuah rebung(bambu baru tumbuh)nya.selain menjadi makanan wajib ada dalam ritual-ritual yang disebut diatas, lamang kecamatan Tebing Tinggi (dan kecamatan lainnya dikabupaten Balangan) ini menjadi makanan lelang diacara saprah amal pencarian dana guna pembangunan tempat ibadah seperti mesjid atau langgar(mushola), cara makannya pun beda dengan yang biasanya. Yang pada biasanya lamang hanya dimakan dengan sambal kacang manis pedas, lamang disini dimakan lengkap dengan lauk pauk lengkap selayak kita makan biasanya, untuk dapat menikmati lamang khas ini kita hanya bisa mendapatkannya dengan cara menyahut lelang diacara lelang saprah amal ditempat ini.
Kemudian dari cara memasak lamang ini terpikir olehku, apa mungkin lamang ini merupakan makanan peninggalan dari Zaman pra sejarah dari tradisi neolitik?
Dalam buku Lembar siswa GITA kurikulum 2004 berbasis kompetensi, Sejarah Nasional dan Sejarah Umum untuk SMA kelas X semester I, terbitan PT.Pabelan Cerdas Nusantara (tahun penerbitan) dijelaskan bahwa sejarah disusun berdasarkan jejak-jejak tersebut berupa benda-bendahasil kebudayaan mereka, misalnya alat berburu dan menangkap ikan, alat pertanian, pertukangan, benda-benda yang berhubungan dengan kepercayaan, bekas tempat tinggal dan sebagainya.
Berdasarkan penelitian terhadap benda-benda peninggalan sejarah cara hidup, mula-mula mereka hidup mengembara mencari tempat yang ada makanan atau minuman dan tempat berteduh, oleh para ahli sejarah masa ini awal ini disebut masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa selanjutnya adalah masa bercocok tanam atau pertanian (tradisi Neolitik), masa ini merupakan suatu revolusi dalam masa prasejarah karena manusia yang pada awalnya hidup bergantung pada alam beralih menjadi pengolah alam (Food gathering ke Food producing), manusia di masa ini mulai hidup diperkampungan kecil, mengolah tanah dengan membuka hutan, dan mulai menanam kacang, umbi dan biji-bijian serta mulai menjinakkan hewan tertentu. Dizaman ini tentunya belum dikenal alat-alat masak sekarang ini, manusia masihlah menggunakan alat-alat masak alam, nah apabila kita mencoba menulusurinya, besar kemungkinan manusia memasak menggunakan cara-cara seperti memasak lamang…..untuk menjawab dengan pasti bahwa lamang adalah makanan dari zama prasejarah wallahu a’lam, perlu dilakuakan, dan perlu dilakukan penelitian lebih mendalam, dan harus kita ingat, bahwa peristiwa sejarah itu menyangkut 3 dimensi yaitu masa lalu atau lampau, kini dan akan datang.
  

Jumat, 19 Agustus 2011

Sang Pemburu Sinyal


Handphone / Hp adalah barang paling populer sekarang ini….No body can deny it. Malah ada yang bilang  Hp itu sudah seperti KTP, jadi kalau tidak bawa HP sudah seperti tak punya jadi diri ( he….he…he…..).
Karena itulah, kita pada akhirnya tak pernah bisa pisah dengan barang ini, bahkan lantaran sebegitu cintanya dengan barang ini , kemanapun kita pergi akan selalu di bawa kemana – mana, bahkan kalau perlu sampai ke toilet atau kamar mandi pun sukses terbawa serta.

Dari segi style Hp tak kalah pentingnya, tanpa Hp dianggap bukan anak gaul, istilah nya kuper, jadi tanpa Hp siap – siap saja tersisih dari pergaulan……sudah sebegitu penting Hp bagi semua sisi – sisi kehidupan kita.

Namun apalah artinya Hp tanpa adanya sinyal, jika ada yang menanyakannya, jawabannya akan sepadan dengan perumpamaan ikan tanpa air, pantai tanpa lautan, leleki tanpa wanita dan sebagai – sebagainya, ibaratnya hidup tanpa pasangan adalah kesepian, Hp tanpa sinyal adalah ketidak berartian.

Untuk kecamatan Tebing Tinggi meski belum terdapat tower pemancar sinyal Hp.masalah Hp jangan di Tanya, 80 % koma sekian – sekian  sudah memiliki kemampuan dalam hal membeli Hp meski belinya tanpa sinyal tentunya, dan angka 70 % koma sekian – sekian sudah melek Hp.

Untuk mengatasi ini semua, bagi kita – kita yang terdampar di wilayah tebing tinggi meski panjang – panjang pikir, diantaranya dengan meluangkan waktu manjadi pemburu sinyal kedataran yang lebih tinggi atau dengan memasang antene yang tinggi kemudian di hubungkan dengan kabel ke Hp.

Dulunya sih pernah mau di bangun tower pemancarnya di desa Sungsum, persis di belakang mesjid Desa sungsum, di pinggir jalan menuju Desa Auh. Pondasi untuk menempatkan Baja – baja rangkaian tower pemancar sukses di rampungkan, baja – baja menaranya pun di datangkan, tinggal merangkainya maka sekecamatan tebing tinggi pun tidak perlu lagi masang antene rumahan  yang tinggi untuk mendapatkan sinyal, atau meski cape – cape berburu sinyal.

Namun apa daya, sekarang kita tidak bisa melihat keberadaan  menara pemancar ini….yang nampak hanyalah padang rumput menutupi pondasi menara, di selingi rimbun pohon pisang……..kabarnya baja rangkaian tower pemancar di tarik ke tanjung kab. Tabalong,……ironis memang, namaun inilah realita adanya.

Dari sana – sini bertanya ternyata bukan masyarakatnya yang menolak di bangun pemancar sinyal Hp disini, masyarakat pun sadar dengan kemudahan yang di dapatkan dari adanya penbangunan tower pemancar ini.
kabarnya jadi seperti sekarang ini di sebababkan lantaran seseorang atau mungkin beberapa tokoh masyarakat yang meatas namakan masyarakat menolak pembangunan ini dengan alasan dilatar belakangi kesalahan penempatan pembangunannya, dikatakan bahwa pembangunan pemancar ini berada dalam kawasan hutan lindung ( dalam peta nasional memang benar kawasan ini adalah  berada dalam kawasan hutan lindung ), ditakutkan nantinya pembangunan ini akan merusak kelestarian habitat, ekosistem hutan lindung (……Mungkin ).
Macam mana pula……..tapi mungkin masuk akal juga  ( meski tak masuk akal juga )…..dengan pembangunan tower pemancar sinyak di kawasan hutan lindung, ditakutkan nantinya semua penghuni hutan lindung bakalan ikut – ikutan latah ngikutin trend ber Hp ria juga.
Susahkan jadinya andai monyet mau beli Hp juga, kalau belinya pakai duit sih tak jadi masalah, takutnya nanti bayarnya  pakai daun, atau jangan – jangan saat tengah malam pintu rumah kita di ketok – ketok atau malah di gedor – gedor oleh ular atau biawak sejenis kadal raksasa yang mau beli pulsa lantaran keranjingan browsing internet, atau facebook abis.

Tapi kupikir bukan lantaran ini sebenarnya, pasti ada sesuatunya di belakang ini, ibaratnya setiap ada peraturan – peraturan atau perundang – undanagan yang mau di terbitkan ato suatu keadaan yang dapat menyebabkan adanya suatu perubahan yang perlu di cermati adalah siapa yang diuntungkan ? seberapa banyak keuntungan akan berpihak kepada kita?

Add caption
Ini sangat penting sepertinya,……….Ujung – ujungnya ‘DUIT ‘ Bro

menghadiri aruh adat baharin ds langkap, dayak pitap, kab. balangan


Kamis, 18 Agustus 2011

jalan jalan ke kambiyain (anak desa dayak pitap, Kab. Balangan)


Add caption
Kambiyain merupakan anak desa dari desa dayak pitap di kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Balangan, dayak pitap adalah salah satu suku dayak yang masuk dalam rumpun dayak bukit. Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal dipedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak yang pernah aku ketahui adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur. Sedang nama kambiyain sendiri sebenarnya berasal dari nama sungai yang mengaliri desa ini yaitu sungai kambiyain, nama kambiyain selain menjadi nama desa juga di abadikan dalam nama jembatan, yaitu jembatan kambiyain yang menghubungkan desa juuh dengan desa sungsum di kecamatan tebing tinggi.
Sama seperti cerita tentang kunjungan – kunjungan ku yang lain, kali ini pun adalah dengan tujuan puskesmas keliling dan posyandu, berangkat dari puskesmas tebing tinggi dengan team pusling dan posyandu yang terdiri 1 juru imunisasi ( M. Hazairin’ Doank’, AMK), 1 Bidan ( Megawati, AM. Keb ), 1 Dokter ( dr. Volman )dan 2 Paramedis ( herry ‘ J – Panx’ AMK dan M. Deddy ‘ Di2t’ Narlianto, AMK) pagi 09:00 wita diiringi dengan lambaian tangan P- Man Ali umar yang sempat menitip salam buat udara dingin dan sejuk pegunungan, kepada irama angin menghembus dedaunan, riak air dingin yang jernih di batu batu, dan kepada gadis – gadis gunung tercantik baik yang masih lajang, atau sudah janda pun……tak apalah.
Sebenarnya kunjungan ke kambiyain nyaris batal lantaran kita kekurangan kendaraan,padahal team sudah siap tuk berangkat, bahkan team cadangan pun kepingin ikut berangkat pula, biasalah……biasalah meskipun kendaraan dinas di puskesmas cukup banyak, namun kebetulan yang di percayakan untuk merawatnya pada tak datang ke puskesmas, karena lagi ada pertemuan dan perjalanan dinas ke Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan. Kendaraan plat merah Cuma ada 2 yang standby sedang yang 1 kaya nya terlalu posesive oleh yang di amanahi merawat kendaraan, kejadian seperti ini memang sering terjadi…….. tidak hanya di tempat kami tapi di tempat – tempat lain pun kejadian seperti ini sering pula terjadi………..sudah tahu bahwa ini memang diperuntukkan untuk menunjang pekerjaan.  atau menyadari saja sebenarnya bahwa ini memang milik bersama, namun lantaran sudah keenakan di pakai sudah merasa seperti asset pribadi. Dalam bekerja kita memang harus berpikir menggunakan hati, bukan dengan perut.
Namun karena memang sudah niatan mo berangkat……the show must go on, dengan perasaan berat kami pinjam juga kendaraan plat merah yang telah sebegitu posesif di tangannya, aku yakin pasti dengan berat hati pula ian meminjamkannya.  
3 Kendaraan roda dua plat merah ini pada akhirnya sukses juga menderu di jalanan beraspal penuh lobang, dengan berboncengan semua mengarah ke bagian hilir dari puskesmas tebing tinggi, melewati desa Tebing Tinggi, Gunung Batu, di persimpangan desa Sungsum kendaraan belok kiri dan memasuki Desa auh, aliran listrik dari kota Barabai dan Paringin berakhir di desa ini, jalanan yg tadi beraspal pun cuma sampai disini.
Penampilan kami benar – benar sudah seperti Petugas Penyuluh Lapangan Departemen pertanian yang turun ke lapangan, sebagian dari kami memakai sepatu boat karet, yang lain karena Boat karet hanya ada 4 pasang terpaksa hanya menggunakan sepatu kets, bahkan kadang teman teman yang lain nekat hanya menggunakan sandal jepit, karena menurut teman – teman yang biasa menggunkan lebih efektip dan biar lebih menyatu dengan warga, dan kepingin ikut merasakan apa yang di rasakan oleh warga dayak pitap saat melewati jalan – jalan ke kambiyain
beberapa saat setelah itu aku merasa berada di dua peradaban yang berbeda…disatu sisi listrik masih bisa dinikmati dengan jalanan beraspal, disatu sisi lainnya hutan kebun karet,jalanan berlubang dan berlumpur plus tanpa listrik…
Matahari tampak cerah dan bersahabat dengan kami, benar – benar saat yang tepat untuk melakukan sebuah kunjungan ke kambiyain, daun – daun, pepohonan, rerumputan di pinggir jalan, ranting – ranting pohon yang telah jatuh dari pohonnya tampak basah dan kuyup, tidak hanya karena basah embun pagi tadi, tapi karena sisa basah hujan senin semalam siang yang sempat turun dengan derasnya. Ujung Jalan beraspal telah hampir hampir terlewati, dari jauh terlihat  Gunung Besar  dengan puncaknya yang  kokoh  diselimuti kabut tipis khas pegunungan  meratus. Meski telah di beri pengerasan dengan campuran batu kali dan pasir namun kubangan lumpur seperti bubur lantaran hujan kemaren tetap lah ada, jalanan berkelok kelok layaknya trek off road mesti kami lewati, jalanan terasa licin….kami mesti hati – hati agar tidak jatuh dari kendaraan, kadang – kadang teman kami yang di bonceng mesti turun dari boncengan kendaraan dan mesti jalan kaki Karena jalanan terlalu licin, atau lantaran kubangan lumpur yang terlalu dalam.
Setelah melewati beberapa jembatan kami sampai di kambiyain hulu, di tempat ini terdapat pasar desa yaitu pasar kambiyain, pasar ini adalah pasar mingguan yang jatuh pada pada setiap hari selasa.pasar ini tidak terlalu besar, hanya berupa lapak – lapak sederhana yang di beri atap terpal dan apabila pasar telah usai terpal tersebut dilepas, bahkan kadang pelataran penduduk pun di jadikan lapak jualan……pasar ini mulai buka pagi pagi sekali sekitar pukul 07:30 pagi dan buka kurang lebih 1 jam, tidak jauh dari pasar kambiyain terdapat Sekolah dasar kambiyain, jenis bangunannya adalah banguna semi permanen, lantai bangunan sekolah dari semen sedang dindingnya dari kayu, di sekolah ini terdapat rumah dinas guru 1 buah yang menurut Hijri yang merupakan pengajar di sekolah ini, rumah ini telah ditempati oleh petugas kebersihan dan keamanan sekolah. Semua pengajar di sekolah ini pun tidak ada yang bertempat tinggal di seputaran desa kambiyain.sampai di daerah pasar kambiyain ini pula pengerasan jalan yang seadanya ini berakhir.
Perjalanan kami lanjutkan ke kambiyain hulu, jalan – jalan kami lewati kali ini benar – benar hanya berupa jalan setapak berwarna merah, warna khas tanah pegunungan. Jalanan sedikit mendaki kadang di sertai dengan kubangan – kubangan lumpur, dari perjalan yang sudah hati – hati sekarang harus lebih hati – hati lagi, karena jalan yang menunjak dan menurun ini benar – benar terasa lebih licin. Setelah membelah 2 sungai surut dan jernih, sampailah kami di kambiyain hulu, jarak dari kambiyain hilir ke kambiyain hilir ini kurang lebih 3 KM……..pos pusling dan posyandu kami memang berada di kambiyain hulu ini, pos ini merupakan rumh kader posyandu, rumahnya persis di samping kanan balai adat kambiyain. Pusling dan posyandu ini semua dilaksanakan dalam suasana lesehan, tidak ada nomor antrian, semua penduduk yang ingin mengikuti acara posyandu atau pengobatan sudah tahu kapan gilirannya atau buakan gilirannya, semua berjalan dengan suasana santai dalam ruangan yang aku rasakan cukup pengap.
Rumah penduduk rata – rata adalah bangunan non permanen dengan atap dari anyaman daun rumbia, bahasa keseharian yang digunakan di sini adalah bahasa banjar, bahasa banjar memang banyak kemiripannya dengan bahasa Indonesia, perbedaannya tipis sekali kadang yang seharusnya di ucapkan dengan hurup ‘O’ menjadi u atau hurup ‘E’ di ucapkan dengan ‘I’ atau ‘A’. tidak ada bahasa kesukuan khusus dayak di suku dayak pitap ini. Yang khas di setiap rumah penduduk kambiyain dan rumah – rumah warga suku dayak pitap adalah di setiap ujung halaman rumah terdapat sangkar batang kecil dari bambu yang pada ujungnya di belah empat kemudian di isi dengan tempurung kelapa yang di belah 2, tepurung ini kemudian dalam 1 atau 2 minggu sekali di isi dengan bubur gayam,bubur gayam adalah bubur yang di buat dari beras ketan yang di buat seperti kelereng kemudian di rebus dalam larutan air gula merah dan santan, tujuan pemasangan sangkar batang ini adalah untuk memberi makan bagi para roh penjaga rumah. Dalam rumah penduduk biasanya terdapat poster betulisan bahasa arab, atau poster – poster para wali islam, kadang terpikir olehku mungkin mereka adalah pemeluk agama islam, namun ternyata pada waktu kami tanyakan mereka bukanlah para pemeluk agama islam, namun menurut mereka poster – poster tulisan arab dan poster para wali ini memiliki tuah bagi mereka.
Dalam anggapanku, kambayain adalah desa di tengah hutan…….udara khas pegunungan benar – benar sebuah media relaksasi bagi ku, aku masih bisa melihat kepulan asap di rumah rumah penduduk dari tungku – tungku masak mereka, aku bisa mendengar angin yang menggoyang pohon dedaunan, aku masih bisa merakan hembus angin membilas peluh di dahiku, namun dalam pikirku yang terjujur , kuakui aku masih belum siap jika aku benar – benar menjadi bagian dari bagian yang sebenarnya dari kambiyain. Aku jadi teringat ucapan iparku wahyu dulu padaku saat ku ceritakan tentang kambiyain padanya…….kedamaian dan ketenangan kambiyain bagi kita hanya terasa dalam 1 atau 2 hari saja, selebihnya akan terasa membosankan, karena kita sudah terbiasa hidup dalam peradaban kita sendiri……..kehidupan kita dengan mereka jelas berbeda…..kupikir sekarang ada benar nya juga.
Kambiyain dalam Tahun - tahun sebelumnya ( 2009 ) masih gelap gulita, didesa ini belum ada penerangan listrik dari PLN, sebagai penerangan para penduduk masih menggunakan lampu templok, atau bagi keluarga yang agak mampu akan menggunakan genset……pada saat sekarang rumah – rumah penduduk di sini sudah mendapat bantuan dari pemerintah daerah berupa listrik tenaga matahari. meski kehidupan mereka kuanggap di tengah hutan, namun sebagian rumah penduduk sudah mempunyai antenna parabola untuk menonton TV sbagai media hiburan dan informasi, namun media hiburan dan informasi yang pasti ada di setiap rumah penduduk adalah Radio transistor…..peran Radio transistor bagi masyarakat dayak pitap begitu pentingnya, karena segala informasi seperti acara aruh adat, acara pernikahan semua di posting lewat Radio, Stasion Radio yang paling di gemari oleh masyarakat dayak pitap adalah Radio Swara Barabai dari kabupaten sebelah yaitu Hulu Sungai Tengah, dengan pembawa acaranya dengan sandi radio Bang Madi,…….nama Bang Madi begitu terkenal disini, bahkan seandainya Bang Madi ini banting setir kedunia Politik, sepertinya daerah dayak pitap bakalan siap mendukungnya………… jangan heran seandainya kita berpapasan dengan penduduk yang menggantungkan radio di lehernya pada saat bekerja di kebun atau pulang dari kebun,peran radio disini memang sangat tinggi. stasion Radio di Kabupaten balangan sampai sekarang memang masih belum ada  
Mata pencaharian masyarakat di sini adalah dari perkebunan karet dan bertani padi. Cara menanam padi di sini adalah dengan menanami bukit – bukit atau di sela – sela tanaman karet yang mereka sebut manugal, beras gunung atau tugal ini biasanya sangat harum dan pulen, para pria nya biasanya ada pekerjaan tambahan selain berkebun dan bertani yaitu berburu, yang menjadi hewan buruan mereka biasanya adalah Babi hutan yang memang banyak berkeliaran di daerah hutan kambiyain ini.
Pada saat posyandu dan pusling ini selesai, dan kami siap siap berkemas, udara pegunungan yang sejuk ini terasa semakin dingin, langit yang tadinya cerah kebiruan mulai di selimuti kabut tebal berwarna hitam, sebuah pertanda akan turun hujan…….kami harus cepat – cepat kembali ke puskesmas tebing tinggi, setelah berpamitan dengan penduduk kambiyain hulu yang di sekitar rumah penduduk yang kami jadikan pos, kendaraan plat merah kami pun menderu lagi melewati jalan jalan setapak berwarna merah dan membelah sungai kecil kambiyain, rinai mulai turun, semakin deras dan semkin deras, kami pun tak mungkin meneruskan perjalan pulang kami, di kambiyain hilir terpaksa kami berteduh di rumah – rumah penduduk……..kurang lebih 30 menit hujan deras menjadi bagian kami, dan dalam keadaan berteduh dari terpaan hujan ini kami gunakan untuk melayani warga yang sakit dan memerlukan pengobatan.
Pukul 14:00 wita kami tiba puskesmas tebing tinggi, sebagai pelepas lelah dan penghangat tubuh setelah kehujanan secangkir teh hangat atau secangkir kopi instan menjadi bagian kami, dalam pikiran kami semua……..,sebulan lagi kami baru akan kembali berkunjung ke kambiyain.

denah balai adat desa langkap dayak pitap


ARUH BAHARIN LANGKAP: WUJUD RASA SYUKUR, PERASAAN CINTA KEPADA LELUHUR DAN EKSISTENSI BUDAYA DAYAK PITAP



Desa langkap merupakan salah satu desa dalam wilayah kerja Puskesmas Tebing Tinggi di kecamatan tebing tinggi kabupaten balangan propinsi kalimantan selatan, desa ini dihuni seluruhnya oleh warga dari suku dayak pitap. Dayak pitap sendiri adalah salah satu dari dayak meratus atau dayak bukit, Dayak Pitap merupakan sebutan bagi kelompok masyarakat yang terikat secara keturunan dan aturan adat, mendiami kawasan disekitar hulu-hulu sungai Pitap dan anak sungai lainnya di kecamatan tebing tinggi. dalam peta nasional desa langkap dan anak – anak desa dayak pitap masuk dalam area sangat terpencil. dalam wilayah kerja puskesmas Tinggi di kecamatan tebing tinggi sendiri mereka menempati area- area paling ujung, namun desa langkap sendiri adalah desa yang paling dekat bagi kita untuk bertemu dengan warga dari suku dayak pitap, mereka berbatasan langsung dengan desa- desa yang dihuni oleh warga dari suku banjar yaitu desa mayanau dan desa simpang bumbuan, perlu diketahui juga, orang desa langkap dari kesukuan dayak pitap ini biasanya mengartikan bahwa orang banjar tidak hanya mengacu kepada kesukuan yaitu suku banjar, tetapi juga mengartikan bahwa kata – kata banjar mengacu kepada orang – orang yang memeluk agama islam.
Memang di desa langkap ini para warganya masih menganut agama leluhur mereka, yaitu agama kaharingan yang merupakan agama paling umum bagi orang – orang dari suku dayak, agama atau keyakinan ini adalah agama yang memepercayai akan adanya kehidupan setelah mati, yaitu kehidupan alam roh dan di alam inilah para leluhur mereka berada, dan di percayai pula bahwa adanya saling ketergantungan antara kehidupan di dunia dan kehidupan di alam roh ini,di ceritakan bahwa kehidupan di alam roh ini penuh dengan kedamaian, layaknya kehidupan di dunia mereka pun saling berinteraksi, makan dan minum dsb, dan bahkan mereka ini ikut menentukan segala baik dan buruk kehidupan para turunan mereka di dunia, memohonkan harapan – harapan para keturunan mereka di dunia kepada penguasa penuh semesta alam dunia dan alam roh, memenuhi atau mengabulkan hajat mereka, sehingga kewajiban para mereka para turunan yang ada di dunia ini adalah berbakti kepada mereka yang telah tiada untuk memenuhi segala kebutuhan kehidupan leluhur di alam roh dan mengingat kepada mereka dengan memberikan sesaji dalam ritual ritual keagamaan mereka.Namun permasalahannya, dalam keagamaan kaharingan seperti di tempat ini masihlah bersifat totorial, tidak ada buku keagamaan khusus, atau kitab atau para guru agama yang bisa diajarkan dan bisa mengajarkan kepada generasi penerus tentang keyakinan keagamaan ini, sehingga bagi para anak – anak, remaja,atau pemuda di desa ini yang sekolah biasanya akan mengikuti pelajaran agama hindu atau budha yang dianggap mendekati agama leluhur mereka untuk memenuhi kurikulum sekolah.
Luas desa Langkap ± 2.850 km², berdasarkan kondisi wilayah pemukiman masyarakat menempati wilayah pegununungan tidak menempati pemukiman di sepanjang jalan utama,poros jalan desa ini berada di tepi sungai, sehingga apabila kita berkunjung kedesa ini kita akan menemukan pemandangan bantaran sungai dengan aliran deras dan jernih membelah bebatuan, desa ini terdiri dari 2 RT yaitu Langkap dan kaitan.Desa ini adalah daerah yang berbukit bukit, selain sebagai daerah pemukiman, didesa ini juga terdapat kawasan hutan, baik hutan lindung maupun non lindung seperti hutan produksi dsb.
Rata – rata masyarakat didesa langkap berprofesi sebagai petani, yaitu petani karet sekaligus bertanam padi atau manugal, berbeda dengan masyarakat petani yang biasanya menanam padi di pematang sawah, manugal adalah menanam padi tidak pada pematang sawah yang sangat tergantung pada sistem irigasi tapi menanam padi pada lereng lereng gunung, padi yang dihasilkan dari hasil tugal ini biasanya dikenal sebagai beras gunung, beras ini pulen dan wangi.selain sebagai petani penyadap karet dan bertanam padi sebagian lainnya sebagai pedagang,didesa ini terdapat 2 sarana pendidikan yaitu SDN langkap dan SD kecil Raranum di kaitan, di desa ini pun terdapat bangunan Polindes yang berada persis di samping balai adat desa langkap, namun permasalahannya Puskesmas Tebing Tinggi sebagai induk pelayanan kesehatan di kecamatan Tebing Tinggi masih kekurangan tenaga bidan sehingga polindes ini hanya berupa bangunan yang tak berpenghuni, untuk masalah kebidanan di desa dicoverkan sementara oleh bidan desa mayanau yang merupakan desa terdekat. jalan poros desa berada di tepi sungai dengan pengerasan hamparan batu kali, sedang jalan menuju kaitan berupa jalan tanah setapak, terdapat Balai adat di ujung perkampungan, sebagian desa Langkap sebagian sudah mendapat penerangan dari PLN sedang di kaitan aliran listrik PLN masih belum sampai, sehingga sebagian masih menggunakan penerangan lampu templok atau genset bagi yang mempunyai dana atau penghasilan lebih.
Untuk mencapai desa langkap bisa dengan 2 jalur pilihan, yaitu dari kota kabupaten, paringin atau melalui kota kabupaten hulu sungai tengah, barabai. Baik dari paringin atau barabai berjarak ± 40 KM. Sarana transportasi sudah bisa di lalui oleh transportasi roda 4, ini adalah perjalanan yang menyenangkan,karena selama dalam perjalan kita akan mepunyai kesempatan melihat areal perkebunan karet atau petak – petak persawahan penduduk. Apabila kita sudah sampai di desa simpang bumbuan di kecamatan tebing tinggi kita harus melewati jembatan besi yaitu jembatan langkap yang baru saja diresmikan oleh bupati kab. Balangan tahun 2009,ini merupakan jalur jalan yang baru, sedangkan jalur jalan yang lama,kita harus sampai kedesa mayanau kemudian melewati jembatan ayun yang sudah mulai rusak, sehingga hanya bisa dilewati dengan kendaraan roda 2 atau jalan kaki, sedang yang ingin meneruskan dengan kendaraan roda 4 dengan sangat terpaksa harus membelah sungai jernih beraliran deras berpasir dan batu kali sebagai dasarnya yang kedalamannya hanyalah semata kaki, jalan jalur lama ini sudah mulai jarang di gunakan. dalam menjalankan peran dan fungsi puskesmas seperti Pusling, Posyandu, imunisasi anak sekolah, kunjungan rumah,dsb kami lebih banyak memilih kendaraan bermotor/ kendaraan roda 2 karena lebih praktis dan mudah bergerak.
Bentuk bangunan rumah masyarakat desa langkap sudah permanen, sebagian semi permanen, namun masih ada juga jenis rumah yang hanya berdinding bambu, jenis bangunan berdinding bambu ini bisa kita temukan di raranum.
Di bulan Juli atau bulan Agustus setiap tahunnya adalah musim panen,namun pada tahun ini di desa langkap panen terjadi pada bulan september 2010, Bagi sebagian masyarakat di Nusantara, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidupnya dari bertani padi, musim panen adalah salah satu momen yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Selain bermakna ekonomi, musim panen padi juga mengandung makna spritual. Oleh sebab itu, sebagian masyarakat menggelar ritual-ritual tertentu atau upacara-upacara khusus sebelum atau sesudah musim panen padi tiba. Tujuan digelarnya upacara ini adalah sebagai perwujudan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas hasil panen padi ladang yang melimpah, sekaligus penghormatan terhadap arwah leluhur yang diyakini senantiasa melindungi mereka dari berbagai marabahaya. Mereka meyakini, beras hasil panen (baras hanyar) belum boleh dimakan, sebelum upacara adat tersebut dilaksanakan. Realisasi pengucapan rasa syukur ini oleh semua warga dayak pitap diwujudkan dalam ‘aruh’( Kenduri ). Disebut Aruh Ganal karena upacara ini dilakukan secara besar-besaran ( ganal ) selama lima, tujuh atau dua belas hari dengan melibatkan seluruh warga kampung, baik dari kampung dalam maupun kaum luar. Selain itu, upacara ini juga seringkali melibatkan para aparat pemerintahan sebagai tamu istimewa undangannya dan dilaksanakan di balai adat. Bagi masyarakat suku Dayak, upacara Aruh Ganal pada dasarnya merupakan puncak ritual religius yang dilakukan secara kolektif oleh seluruh warga kampung Dayak. Lebih dari itu, ritual ini diyakini juga sebagai salah satu medium paling utama untuk memperkuat tali persaudaraan di kalangan mereka. Dengan kata lain, ritual Aruh Ganal merupakan sebuah tradisi yang hakikatnya menyimpan nilai-nilai religius dan sosial.
Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Aruh Ganal, baik nilai religius maupun sosial dapat dikatakan bermula dari pemahaman filosofis yang dianut oleh masyarakat suku Dayak. Dalam masyarakat Dayak, pemahaman filosofis tersebut berkenaan dengan pemaknaan akan seluruh aktifitas keseharian mereka. Misalnya, dalam aktifitas ekonomi yang meliputi aktifitas berladang ataupun bercocok tanam serta pada akhirnya memanen hasil pertanian mereka. Menurut pandangan filosofis orang Dayak, aktifitas berladang tidak semata-mata sebagai sebuah aktifitas ekonomi namun itu semua tidak bisa terlepas dari pemaknaan nilai-nilai ketuhanan (religius). Maka, pandangan filosofis inilah yang turut serta membentuk karakter ritual yang diciptakan oleh mereka.
Sementara itu, sebagaimana telah disinggung, upacara Aruh Ganal menyimpan nilai sosial. Nilai ini terletak pada fungsi dan tujuan sosial dari upacara itu. Bagi masyarakat Dayak, upacara Aruh Ganal seolah menjadi ajang paling efektif untuk menumbuhkan rasa solidaritas, saling mengenal pribadi atau individu lain. Dalam sejarahnya, tidak ada orang yang mengetahui secara pasti kapan tradisi Aruh Ganal ini mulai ada dan resmi diberlakukan sebagai sebuah ritual yang terlembagakan secara kultural di masyarakat Dayak. Namun, apabila kita melihat latar belakang dan substansi upacara Aruh Ganal, yakni sebagai wujud syukur atas hasil panen, maka upacara ini diperkirakan lahir bersamaan dengan mulai dikenalnya tradisi berladang ataupun bercocok tanam oleh masyarakat suku Dayak. Jadi tradisi ini merupakan sebuah tradisi yang berusia sama tuanya dengan aktifitas ekonomi (berladang) di Kalimantan Selatan. Selain nilai-nilai di atas, upacara Aruh Ganal juga menyimpan nilai politik. Nilai politik ini tercermin pada tradisi mengundang tamu dari kampung-kampung lain dan dari aparat pemerintah. Tradisi undangan pada dasarnya bertujuan politik agar eksistensi tradisi yang merupakan pernyataan eksistensi komunitas suku Dayak tetap diakui oleh kalangan lain. Artinya, dengan diadakannya upacara Aruh Ganal, masyarakat Suku Dayak ingin memperlihatkan pada komunitas lain bahwa eksistensi mereka sebagai manusia yang berada dalam ruang lingkup komunitas terbatas juga dianggap dan tidak dimarjinalkan.
Menurut warga aruh ganal Meskipun diselenggarakan seusai masa panen, namun tidak setiap tahun dilaksanakan, tergantung hasil panen saat itu, apakah mencukupi untuk ukuran sebuah perayaan atau tidak. dan akan disebut aruh adat baharin apabila sampai mengorbankan sapi atau kerbau. Dalam aruh adat baharin desa langkap tahun ini dilaksanakan mulai hari kamis tanggal 29 september 2010 sampai subuh tanggal 6 september 2010, dalam aruh baharin kali ini hewan qurban yang disediakan warga terdiri dari 2 ekor kerbau besar, 8 ekor kambing, berpuluh – puluh ayam, dan entah berapa ekor Babi, ritual adat aruh baharin ini adalah sesuatu yang langka bagi kami,dengan menaiki kendaraan berplat merah, tak pelak kami pun hadir ke aruh adat ini meski tidak secara penuh.desa langkap dari puskesmas tebing tinggi berjarak ± 6KM. menurut bapak uluyani yang merupakan kepala desa langkap, aruh adat baharin adalah aruh adat besar dan dalam pelaksanaannya tidak hanya di hadiri oleh seluruh warga suku dayak pitap dan para warga dayak di kabupaten balangan, namun seluruh warga dayak di manapun berada semuanya diundang, undangan selain disampaikan secara langsung, lewat surat juga disampaikan undangan terbuka yang di siarkan lewat radio kepada seluruh warga dayak. pada saat kami datang ke acara aruh tersebut , Melalui jalan jalur yang baru, Jum’at sore, aruh adat sudah berlangsung selama 1 hari, udara sore terasa hangat, udara pegunungan terhirup dengan segar, kami bisa melihat aroma kemeriahan sudah nampak terlihat di perbatasan desa simpang bumbuan yang merupakan desa yang berbatasan langsung dengan desa langkap. Pada tugu pembatas desa simpang bumpuan nampak terpasang umbul – umbul berwarna – warni, semakin kami memasuki desa langkap kamipun bisa menemukan kecerian dari wajah – wajah para warga terbalut dengan keramahan mereka. Dalam pikiran kami terbayang, hanya kami lah yang hadir disana selain dari suku dayak, namun kenyataannya banyak juga para warga sekitar kecamatan tebing tinggi dan bahkan dari luar daerah yang jelas – jelas bukan dari suku dayak berada di sekitar balai adat langkap.
senyum keramahan dari para warga selalu kami dapatkan, dan bahkan pada saat kami berjabat tangan dengan mereka, mereka mengatakan merasa terhormat dan tidak merasa risih atas kedatangan para warga lain selain warga dayak.
Pada saat tiba disana sedang dilaksanakan persiapan malam puncak aruh adat, malam puncak bukanlah diartikan sebagai malam terakhir dalam pelaksanaan acara, namun adalah malam yang akan menjadi awal dalam pelaksanaan aruh yang sebenarnya. Kami tidak sempat menyaksikan secara langsung awal dari persiapan ini, menurut para tetuha kampung disana acara persiapan ini dimulai dengan acara sabung ayam, selanjutnya dilakukan penyembelihan hewan qurban, dalam penyembelihan hewan qurban ini sangat nampak toleransi dari warga karena dalam penyembelihan hewan qurban ini dilaksanakan oleh para orang luar penyelenggara acara yaitu oleh orang orang dari agama islam, karena menurut mereka dengan disembelih dengan cara itu, hasil hewan qurban dapat dinikmati tidak hanya para warga dayak, tapi juga dari para warga yang mungkin mempunyai keyakinan yang berbeda dengan mereka. Setelah disembelih hewan qurban di bersihkan oleh para warga pria secara gotong royong, dan para wanitanya menyiapkan bumbu untuk memasaknya.para wanita yang lebih tua pun ambil bagian tugas khusus, yaitu menyiapkan aneka sesaji dalam acara puncak, mengisi bakul sesaji warga yang akan diletakkan dalam susungkulan ( tentang susungkulan banyak di tulis pada catatan tour iyam, red )dsb,sesaji ini biasanya adalah tumpeng nasi ketan dengan aneka hisan dan kepala ayam, telur ayam rebus, lamang /lemang ( beras ketan yang dimasak dalam bumbung bambu muda kemudian dipanggang diatas api ) bubur merah, bubur putih dan lain – lain. Ada yang menarik dalam acara persiapan ini semua wanitanya memakai tapih bahalai yaitu kain batik panjang dan para lelakinya mengenakan sentana parang atau mandau.
 Balai adat dayak pitap adalah bangunan dari kayu berbentuk persegi panjang, lantai bangunan sebgian besar berlantai dari papan dan sisanya berlantai bambu tanpa karpet ,yang namanya balai tentulah tanpa sekat – sekat kamar. Pada hari – hari yang lain balai adat ini tampak selalu tertutup dan sepi, namun pada saat kami berkunjung nampak segala kemeriahan berpusat di tempat ini. Dihalaman depan balai adat para pria sedang mengawah yaitu menanak nasi dengan menggunakan wajan yang besar di belakang balai sebagian ibu – ibu membuat lamang,di samping kanan balai persis di halaman polindes para pihak lelaki yang lain menguliti hewan qurban, dan di pelataran samping kanan kelompok lelaki lain memotong daging hewan qurban menjadi ukuran – ukuran kecil. Meski tanpa hiasan pada balai namun di depan balai penuh dengan umbul – umbul aneka warna. Sebenarnya untuk masuk kedalam balai adat sebenarnya bisa lewat pintu depan dan pintu samping, meskipun ke dua pintu sebenarnya terbuka namun untuk masuk hanya bisa lewat pintu depan karena pada pelataran pintu samping penuh dengan kelompok pria memotong – motong hewan qurban yang telah di bersihkan tadi. Kami mendapat kehormatan masuk kedalam balai, di sudut ruangan kelompok ibu – ibu nampak sedang memeras parutan kelapa untuk di jadikan santan. Susungkulan di hias dengan janur kelapa, kelompok wanita yang lebih tua menyiapkan sesaji, kegiatan di di dalam balai masih belum di mulai, namun kegiatan diseberang balai di belakang rumah – rumah penduduk nampak bergeliat, ramai suasananya, dengan penuh penasaran kami pun meninggalkan balai adat, setelah mengucapkan selamat kepada para tetuha desa, semakin mendekati pusat kemeriahan di belakang rumah – rumah penduduk ini nampak kontras wajah orang – orang disana, nampak wajah yang di balut keceriaan dan ada pula sebaliknya, tidak hanya kaum pria tapi juga wanitanya, semakin mendekati aku mencoba menebak – nebak dalam hati, ternyata tebakanku benar adanya ini lah sebab keceriaan dan sebab kurang cerianya wajah – wajah mereka, ya……ini adalah arena judi. Melewati pagar bambu kami memasuki area ini, harus kuakui, aku tidak mengerti masalah judi, namun yang jelas ada 2 jenis permainan yang di tawarkan dalam lapak – lapak para gambler ini, yaitu jenis judi dengan menggunakan 3 buah dadu yang dikocok dalam tempurung kelapa dan lapak kelompok permainan judi kartu remi. Ada pendapat bahwa judi ini bukanlah bagian dari pada aruh adat, namun tidak sedikit yang menganggap bahwa judi ini bagian dari aruh adat itu sendiri, karena apabila setiap kali di laksanakan aruh adat pastilah judi menjadi bagiannya, entah mana yang benar namun yang jelas, inilah suasana persiapan aruh adat baharin di desa langkap yang kami kunjungi, udara sore semakin dalam kami rasakan, udara dingin khas pegunungan terasa menusuk sampai ketulang, sebuah pertanda kami pun mesti pulang, ini kunjungan kami yang tak sepenuhnya, namun menurut seorang tetuha desa yang sempat kami temui, prosesi punck baharin diisi dengan upacara adat yang disebut "Batandik", yaitu menari sambil diiringi pembacaan mantra berisi pujian dan doa kepada Dewa. Pembacaan mantra dan doa dilakukan oleh para tokoh masyarakat adat yang disebut "Balian", sedang proses pembacaannya disebut "Bamamang".Upacara Aruh Baharin biasanya dihadiri oleh para "Balian" dari seluruh Balai Adat yang ada di Kalsel yang jumlahnya bisa sampai 10 orang per satu Balai Adat
Melalui upacara adat Aruh Baharin, masyarakat adat Dayak Pitap di Balangan menyampaikan rasa syukur, puji-pujian dan do serta pengharapan agar panen dimasa yang akan datang berlimpah ruah.