Rabu, 24 Agustus 2011

oleh - oleh Pusling Iyam Desa Dayak Pitap

Penulis dengan balian iyam desa dayak pitap ,bp.waau
Mengunjungi desa Iyam yang merupakan salah satu anak desa Dayak Pitap di kecamatan tebing tinggi, Kabupaten Balangan, desa ini memang termasuk desa yang terpencil, desa ini terletak di kaki gunung hantanung, perjalanan ke desa iyam merupakan hal yang biasa bagi kami yang kebetulan bekerja di puskesmas tebing tinggi, kunjungan demi kunjungan yang kami lakukan kesana memang lah bagian dari rutinitas Kerja, yaitu kegiatan puskesmas  keliling yang rutin kami laksanakan setiap bulannya, biasanya kunjungan ini kami laksanakan diawal bulan, di minggu pertama pada hari rabu, hari rabu dipilh karena pada hari rabu ini merupakan hari pasar bagi anak desa dayak pitap ini, pasar iyam. Para warga desa pada hari ini akan turun dan memadati pasar kaget ini…..mereka kebanyakan mendatangi pasar ini dengan berjalan kaki, aneka kebutuhan yang di perlukan oleh masyarakat bisa di dapatkan di pasar ini,dalam hal transaksi kabarnya kadang praktek barter barang bisa terjadi. Dan sialnya selama kami melakukan kunjungan ke desa ini belum pernah melihat langsung bagaimana suasana pasar kaget ini, menurut cerita warga desa yang kami temui, pasar dadakan ini mulai buka pagi – pagi sekali, dan tutup pada kurang lebih  pukul 09:00 wita, sedang kami baru bisa sampai ke desa ini pada pukul 10:00 wita, kadang lantaran kesibukan kami di puskesmas pernah kami sampai ke desa ini pukul 11:30 wita, sehingga kami tak pernah merasakan seperti apa dan bagaimana kemeriahan pasar dadakan ini, mau ngga mau mereka yang ingin berobat atau mau memeriksakan kesehatannya kepada kami mesti menunggu dengan sabar kedatangan kami sehabis berbelanja di pasar.

Puskesmas keliling yang kami maksud tadi menurut Drs. Nasrul Effendy dalam bukunya ‘dasar – dasar keperawatan kesehatan masyarakat, edisi 2’  merupakan unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor roda 4 atau perahu bermotor yang di lengkapi peralatan kesehatan, peralatan komunikasi serta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas, secara fungsinya puskesmas keliling merupakan penunjang dan membantu melaksanakan kegiatan – kegiatan puskesmas dalam wilayah kerjanya yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan.
 Dalam catatan ku waktu kuliah dulu dikatakan bahwa kegiatan – kegiatan puskesmas keliling    ( Pusling )adalah :
1.     Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh pelayanan puskesmas atau puskesmas pembantu, 4 hari dalam 1 minggu
2.    Melakukan penyelidikan tentang kejadian luar biasa
3.    Dapat di pergunakan sebagai alat transportasi penderita dalam rangka rujukan bagi kasus gawat darurat
4.    Melakukan penyuluhan kesehatan dengan menggunakan alat audio visual

Ini semua merupakan sebagian kecil teori dasar yang di ajarkan kepada kami dalam pelaksanaan kegiatan di puskesmas, namun pada kenyataannya kami mesti pandai – pandai menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan, pada intinya kami bisa menyampaikan tujuan, maksud dan apapun itu yang ingin di capai dari puskesmas keliling ini.
Menurut pengertian diatas dikatakan ‘merupakan unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor roda 4 atau perahu bermotor dan peralatan kesehatan’ sedang untuk mencapai desa ini memang bisa dengan kendaraan roda 4, namun karena medan ke desa ini cukup berat, ada daerah menanjak dan jalan yang  masih belum dilakuakan pengerasan dengan baik, sehingga masih banyak batu batu jalanan yang tak rata, menonjol tak beraturan disana – sini , dengan keadaan seperti ini otomatis apabila kita harus dengan kendaraan roda 4, harus lah mempunyai drifer yang benar benar handal, dan berani, sedang kami di puskesmas belum ada sopir yang dapat diandalkan untuk medan- medan yang seperti ini, kebetulan lagi mobil puling yang juga merupakan mobil ambulance puskesmas tebing tinggi yang diberikan oleh depertemen kesehatan RI tidak berjenis 4WD,  sehingga kurang pas, kurang cocok untuk wilayah kerja puskesmas yang cenderung berbukit bukit ini.
Untuk menyiasati keadaan ini kami melakukan pusling dengan menggunakan kendaraan bermotor roda 2, team pusling kami di puskesmas terdiri dari berbagai profesi dalam dunia kesehatan diantaranya Dokter, Dokter Gigi ( saat ini di puskesmas tebing tinggi belum terdapat Dokter Gigi ),Paramedis, perawat Gigi, Juru Imunisasi, petugas Surveilans, petugas kesehatan lingkungan/ Sanitarian,petugas Gizi/ nutrisionis,Bidan,Asisten Apoteker ( dalam sejarahnya puskesmas tebing tinggi belum pernah mempunyai Apoteker ),dan Analis kesehatan / pekerja laboratorium kesehatan, namun pada kenyataannya kadang kami melaksanakan kegiatan pusling ini hanya dengan 2 buah kendaraan roda 2 sebanyak 4 orang petugas ,karena petugas yang lain lagi di sibukkan dengan tanggung jawab utama mereka di puskesmas, dengan kendaraan roda 2 kami  berboncengan sambil memanggul tas ransel besar berisi obat – obatan dan termos untuk menyimpan vaksin imunisasi.  

Jalan menuju kedesa iyam hanya bisa ditempuh lewat pertigaan desa gunung batu, kabarnya untuk sampai ke desa ini juga bisa melewati jalan yang lain, Cuma jalan ini hanyalah berupa jalan tikus yang hanya diketahui oleh warga desa dayak pitap, atau warga dayak lainnya,atau oleh mereka para penebang pohon yang biasa menyisir wilayah adat dayak pitap ini.jalan – jalan yang biasa kami kewati ini jangan samakan dengan jalan – jalan yang biasa di kota kota…..jalan ini jauh sekali dari kesan – kesan kenyamanan berkendaraan…….teramat jauh kiranya, jalan ini merupakan jalan tanah berwarna merah khas daerah pegununungan yang lantaran begitu seringnya dilewati menjadi alur alur jalan, memang ada usaha pengerasan yang dilakukan oleh masyarakat dan di bantu oleh pemerintah daerah, namun apalah artinya……jalan jalan ini tak akan bertahan dengan lama, pada musim penghujan jalanan ini akan menjadi lunak, kubangan lumpur dimana – mana……untuk berkunjung ke desa mamang lebih nyaman di lakukan pada musim panas, karena pada musim itu tanah menjadi lebih padat,meskipun tak bisa tidak, debu - Debu jalananan akan menjadi bagian dari perjalanan ini, namun tak bisa di pungkiri perjalanan ke desa iyam akan memberikan kesan tersendiri bagi kami, udara pegunungan yang segar, sisi kiri kanan jalan serasa memanjakan kami akan keindahan panorama alam yang tak bisa terlukis dengan kata – kata,deretan pohon karet merupakan hal lumrah disini, rimbun tanaman paku, atau   bambu di kiri kanan jalan yang membentuk gapura selamat datang karena rimbunnya,atau melihat hamparan ilalang hijau yang menyeruakan indah hijau kaki pegunungan, untuk menikmati ini semua  kami mesti menghentikan laju kendaraan untuk melepas lelah sambil menikmati, merenungi mengagumi segala indah ini, ketenangan ini, ketentraman ini dan semuanya, kadang di tepi jalan kami juga menemukan aliran sungai yang batu – batu gunungnya bersembulan, suara aliran sungai, kejernihan aliran sungai yang mungkin tak pernah mereka sadari akan keindahan ini, suatu melodi alam yang tak pernah kami tirukan namun hanya bisa kami rasa dalam nikmat alam ini.
Jarak dari puskesmas tebing tinggi ke desa iyam ini kurang lebih 10 kilometer,namun karena medan jalan yang belum terlalu bersahabat, kami harus menempuhnya kurang lebih 45 menit.

Desa iyam yang merupakan anak desa dari dayak pitap ini memiliki 3 sub anak desa lagi yaitu bangunan, bayuan dan rantau paku. Entah apa arti dan maksud dari penamaan - penamaan ini, kami tidak sempat menanyakan hal ini……sub desa bangunan adalah sub desa pertama yang kami temui, meskipun ini yang pertama, namun kami menempatkan sub desa ini sebagai sub desa terakhir yang kami singgahi dalam setiap pusling ke daerah iyam, penyebaran agama Kristen sudah sampai disini, namun itupun belum begitu berkembang, hanya disekitar gereja yang memeluknya, sedang yang bertempat tinggal agak jauh dari gereja masih mempertahankan kepercayaan adat leluhur yang di sebut kaharingan dan dijadikan sebagai agama bagi mereka, disini pun ada Polindes ( Pondok bersalin desa ) yang dibangun secara permanen, meski tak ada bidan desa yang menempati dan bahkan kunjungan bidan desa secara khusus, paling paling pas pelaksaan pusling lah bidan desa datang berkunjung, itupaun bukan bidan desa yang memang di tempatkan di sini. Puskesmas tebing tinggi memang sangat kekurangan sekali bidan kesehatan, saat ini di puskesmas hanya memiliki 2 bidan,yaitu 1 orang bidan coordinator dan 1 bidan desa yang ditempatkan di desa Auh, entah dengan penerimaan CPNS tahun ini apakah akan ada penambahan tenaga bidan, dari desas desus yang kami dengar, rata rata para bidan kurang begitu tertarik mengikuti test CPNS di kabupaten balangan karena ada anggapan semua bidan yang lulus di kabupaten ini akan di tempatkan di desa – desa terpencil, apalagi sekarang ini para pelamar CPNS sudah tahu seandainya lulus akan ditempatkan di mana, di beritahukan daerah mana saja di kabupaten balangan ini yang memang memerlukan bidan desa atau tenaga CPNS lainnya,dan disaran kan menentukan daerah yang akan ditempatinya, artinya sebegitu mereka lulus seleksi, mereka akan di tempatkan sesuai dengan daerah yang dipilihnya. Di sub desa ini sarana pendidikan Cuma ada 2 SD denagan perincian 1 SD induk yaitu SDN Dayak pitap dan 1 SD kecil,SD Rantau Paku di ujung anak desa, Rantau paku, jadi para siswa SD kelas 1 s/d 3 bisa menempuh pendidikannya tingkat dasar di SD induk  ( SDN Dayak pitap ) atau di SD Rantau Paku, sedang untuk kelas 4 s/d kelas 6 hanya bisa dilakukan di SD induk, SDN Dayak pitap. Entah seperti apa para dewan guru nya mengatur jadwal mengajarnya.
Sub anak desa ke 2 di iyam ini adalah bayuan, disini nampaknya tak terlalu banyak rumah penduduk yang tampak, namun menurut kepala RT II dayak pitap yang kebetulan memang bertempat tinggal di bayuan mengatakan bahwa sebenarnya sebagian penduduknya membuat rumah di dekat kebun mereka di belakang perkampungan bayuan ini, jadi makanya rumah penduduk yang ada di pinggiran jalan ini tampak sangat sedikit, dan disini pun terdapat balai adatnya bagi mereka sub desa bayuan dan sebagian warga sub desa bangunan yang tidak memeluk agama Kristen,karena di sub desa bangunan memang tidak terdapat balai adat.
Sub desa paling ujung dari anak desa dayak pitap iyam ini adalah Rantau paku, di sub anak desa ini terdapat pasar kaget yang rutin dihari rabu, SD  kecil rantau paku, dan balai adat, bicara tentang balai adat, jangan di bayangkan laksana bangunan permanen, untuk bakai adat di dayak pitap hanya di desa ajung yang tampak lebih baik, di iyam balai adat berupa bangunan kayu yang Nampak nya tidak di buat dengan kayu pilihan, balai adat ini apabila dilihat dari luar Nampak seperti rumah penduduk pada umumnya, tidak ada papan penunjuk atau plang nama bangunan  yang menjelaskan bahwa ini adalah balai adat, hanya ukurannya saja yang Nampak lebih besar di bandingkan rumah – rumah penduduk lainnya, dinding bangunan yang dari kayu di pakukan ke bilah – bilah penyangga bangunan menggunakan paku dengan model dalam istilah banjar susun sirih, pada bagian luar Nampak poster kandidat calon bupati balangan untuk tahun 2010 – 2015, dibalai adat inilah posko pusling iyam kami, untuk masuk kedalam balai bisa lewat pintu samping dan lewat depan, lantai pelataran depan terdiri dari susunan batang bambu, sedang lantai pelataran samping terdiri dari kayu papan meski memang bukan dari kayu pilihan, entah apakah ini ada maksud tersendiri atau mungkin lantaran memang kekurangan dana? Entahlah……untuk memasuki ruangan balai kita wajib melepaskan alas kaki, bentuk ruangannya persegi panjang, saat memasuki terasa pengap, sepertinya bangunan ini jarang dibuka oleh penghuninya,balai adat suku dayak pitap biasanya di huni oleh pengurus balai sekaligus balian Desa, dan balai adat ini sepertinya memang di peruntukkan bagi balian beserta keluarganya. dalam kehidupan dayak memang tak bisa lepas dari peran seorang balian, balian ini biasanya berperan sebagai pengelola balai, Dukun desa, penghulu, dan pemimpin spiritual.
yang namanya balai pastilah tidak ada kamar – kamarnya, demikian pula dengan balai adat dayak pitap rantau paku, desa iyam ini, untuk memasak bagi balian dan keluarganya ada di bagian belakang balai, berlantai bambu, untuk memasak masih menggunakan tungku kayu bakar,penerangan bersumber dari listrik tenaga surya hasil bantuan dari pemerintah kabupaten balangan, yang menurut balian hanya bisa bertahan selama kurang lebih 6 jam, namun itupun tergantung beban pemakaiannya, sebagai penerangan dengan 1 buah lampu sejenis lampu TL 10 watts mampu bertahan selama itu, namun apabila di beri tambahan 1 lampu sejenis lagi, paling hanya mampu menerangi separuh waktunya saja, sisa nya terpaksa menggunakan lampu templok.
Bangunan ini tak tampak ada perabotan layaknya rumah berpenghuni, dan sepertinya para penghuninya benar – benar apa adanya, tak ada yang istemewa, untuk tidur dan istirahat balian dan keluarganya tidur di pinggir ruangan dengan baralas tilam kapuk yang bisa digulung dan di pindahkan kemana mana, untuk menghindari gigitan nyamuk mereka tidur menggunakan kelambu, yang di jejer dari kiri kekanan pinggir – pinggir ruangan balai adat. yang cukup menarik bagi kami adalah pada  dinding balai adat bagian dalamnya penuh dengan tempelan poster – poster para artis india dan Indonesia ini terdapat juga poster ayat – ayat suci Al Qur’an, kami berpikir mungkin mereka menyenangi kaligrafi Al Qur’an yang indah ini dan bukan lantaran maksud – maksud lainnya,…. sama halnya mungkin dengan kita yang merasa gagah, PD saat mengenakan baju kaos oblong bertuliskan hurup kanji cina atau jepang namun kita sendiri kadang tak tahu sama sekali apa arti tulisan atau makna tulisan tersebut.
Fungsi balai adat tidak hanya sebagai tempat melaksanakan upacara adat, juga di gunakan sebagai tempat upacara perkawinan, penyembuhan penyakit oleh balian dan tempat berkumpul bermusyawarah dan sebagainya yang bersifat kemasyarakatan.
susungkulan
Pada bagian tengah ruangan balai adat tedapat susungkulan dan sangkar batang, susungkulan adalah bale bale besar berukuran kurang lebih 2 x 3 meter persegi dengan tinggi kurang lebih 3,5 meter, susungkulan biasanya terbuat dari 4 buah tongkat kayu, atau bambu,persis seperti bale bale tempat lesehan hanya susungkulan lebih tinggi, pada upacara adat, seperti upacara syukuran sehabis panen,pesta perkawinan susungkulan ini akan di beri hiasan hiasan dari janur kuning kelapa,segala sesajian ditempatkan dalam keranjang yang diikatkan ke tiang susungkulan atau pada lantai susungkulan bagian atas, para balian akan menari dengan menghentak hentakkan kaki mengelilingi susungkulan tanpa henti, seorang balian selain harus mengetahui tentang adat istadat dan mantra – mantra juga harus memiliki fisik yang kuat,karena selama upacara adat,balian akan terus Batandik (menari sambil menghentak kaki)  tanpa istirahat selama upacara dilangsungkan,siang dan malam, dalam uapacara adat ini kabarnya balian ini selain karena memang memiliki fisik yang kuat, mereka mampu Batandik tanpa henti kabarnya mereka kuat dan mampu melakui karena memang kerasukan arwah roh nenek moyang yang mereka panggil,upacara adat ini selain wujud rasa syukur juga merupakan media penghubung antara alam kita dengan dunia para leluhur. Hiasan susungkulan dari janur kelapa ini akan dibiarkan layu dan mengering pada tempatnya dan hanya boleh diganti apabila akan dilaksanakan upacara adat  selanjutnya atau acara – acara adat lainnya.
sangkar batang
pada gambar disamping dinamakan sangkar  batang, sangkar batang ini terbuat dari sebatang bambu besar yang pada bagian atas dibelah empat sehingga menyerupai sangkar, isi dari sangkar adalah bakul kecil dari anyaman rotan atau bambu  sangkar batang ini di gunakan sebagai media berhubungan dengan roh para leluhur untuk meminta pertolongan penyembuhan dari penyakit yaitu  penyakit – penyakit yang sudah di kategorikan gawat yang sudah tidak bisa lagi dapat diatasi oleh tenaga kesehatan atau sudah sekarat, metode pengobatan ini di kenal oleh masyarakat dengan sebutan babalian, untuk babalian biasanya dilaksanakan selama 4 hari secara terus menerus siang dan malam, acara babalian ini dipimpin oleh balian yang di bantu oleh beberapa pembantu yang merupakan balian dibalai – balai adat dayak pitap lainnya membantu pelaksanaan acara babalian, hari pelaksanaan hanya bisa dilaksanakan pada hari senin sampai dengan kamis, acara di mulai sejak senin sore dan selesai pada kamis malam, syarat yang harus di sediakan oleh orang yang ingin di babalian mesti menyediakan sedikitnya 2 ekor kambing, semakin parah penyakit yang di deritanya smakin banyak  jumlah kambing harus disediakan, menurut balian desa iyam syarat sedikitnya 2 ekor kambing ini tidak bisa di gantikan dengan hewan ternak lainnya, termasuk babi, bahkan menurut beliau lagi apabila ternak yang digunakan adalah babi, para roh leluhur tidak mau datang karena babi dianggap kotor, padahal babi termasuk hewan yang biasa di konsumsi oleh warga desa dayak pitap.
layar balai adat bayuan iyam, dayak pitap
Pada pelataran depan balai adat terdapat tiang dari bamboo yang menyerupai antene telivisi, oleh warga dayak pitap dinamakan layar, mengenai tinggi tiang tidak ada ukuran yang pasti yang penting harus lebih tinggi dari atap – atap rumah,atau ada penjelasan harus dengan menggunakan kayu apa tiang ini terbuat, pemilihan bambu sebagai tiang karena tanaman bambu mudah di dapat dan lumayan panjang serta lurus, pada bagian atas yang seperti antene telivisi ini digantungi dengan kayu yang membentuk segi tiga sama sisi dan mengarah ke 4 arah mata angin, ini merupakan alat untuk mengantarkan sinyal atau tanda untuk menghantarkan berita ke dunia para leluhur bahwa di dalam balai adat sedang diadakan upacara pemanggilan arwah atau roh para leluhur, kemungkinan berbentuk segitiga sama sisi ini berhubungan dengan hikayat dayak yang menyatakan bahwa apabila mereka meninggal akan berada pada burung enggang, sehingga apabila mereka datang memerlukan tempat untuk hinggap, kemudian lagi lewat jalan inilah para arwah atau roh para leluhur akan kembali lagi ke alam nya lagi.
Gambaran seorang balian dalam suku dayak pitap tidak tampak nyata, tidak ada ciri khusus yang menampakkan bahwa ia adalah seorang balian, seperti pakaian khusus atau atribut – atribut yang mesti disandang atau disematkan, bahkan menurut bapak kepala adat tidak ada pakaian adat yang menandakan bahwa ia adalah warga suku dayak pitap. Sekarang, para balian terlihat lebih modern karena boleh menggunakan pakaian modern.
semangat dari pedalaman......siswa SDN Rantau Paku di balai adat

2 komentar:

  1. Kenapa Desa iyam atau Rantau Paku di anggap tidak terpencil? Padahal lokasinya berada jauh di pegunungan meratus

    BalasHapus
  2. Desa Iyam saat kami melaksanakan tugas di sana masuk dalam kategori Terpencil

    BalasHapus